Jumat, 04 Oktober 2019

Remaja Pemuda Kristen di Era Revolusi Industri 4.0 (Amsal 1:2-7)


"Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda. Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan. Untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan"

@andespanjaitan

Perkembangan Dunia sebagaimana arus globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia. Disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjelaskan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi tinggi. Meski masih di bawah Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait dengan global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara. Menghadapi tantangan tersebut, Pengajar Remaja Pemuda pun dituntut untuk berubah mengikuti perkembangan arus, termasuk dalam menghasilkan Remaja Pemuda canggih yang berkualitas bagi generasi masa depan.
Remaja Pemuda atau paling akrab disapa dengan milenial dianggap menjadi kunci peradaban di masa ini yaitu Revolusi Industri 4.0 atau masa Perkembangan Industri diera digital. Generasi mileniallah yang memiliki peluang besar sebagai pelaku utama dalam menjalankan pengembangan industri di era digital. Mau atau tidak, para mileniallah yang akan terlibat di dalamnya. Perkembangan teknologi yang sangat cepat ini seharusnya semakin menyadarkan kita sebagai generasi muda Kristen, bahwa Allah telah mempersiapakan segala sesuatunya baik untuk kita anak anak-Nya. Jadi sebagai remaja pemuda Kristen sebagai salah satu pelaku utama harus sadar akan peran dalam menghadapi Era digital ini.
Perkembangan teknologi dalam dunia Era Digital juga mengingatkan kita bahwa Allah menujukkan kemurahnnya bagi kita anak muda di era saat ini dengan segala dampak positif yang kita peroleh. Jadi seharusnya kita sebagai Remaja pemuda Kristen harus dewasa dan semakin bijak dalam penggunaan teknologi di Dunia Industri 4.0 dan menjadi pribadi yang menyuarakan kebenaran Allah, sehingga dapat memberikan dampak transformative atas berbagai sisi kehidupan remaja pemuda.
Amsal ini mengingatkan akan pentingnya mendengarkan didikan hikmat, khususnya hikmat dari Tuhan, yang memberi kebijaksanaan. Seperti permintaan Salomo ketika ia hendak dinobatkan menjadi raja, "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara..." (1 Raj. 3:9). Kata "faham" ini berasal dari akar kata "mendengar dengan penuh perhatian". Artinya, mendengar setiap tuntunan dan didikan Tuhan, yang tak pernah menyesatkan. Remaja Pemuda dalam menghadapi Era Digital saat ini harus ada pengendalian diri. Dalam mendengar perlu ada kerendahan hati untuk diarahkan dan dibentuk yang akan menghasilkan Remaja Pemuda yang berkualitas di era digital.
Tujuan Amsal-Amsal didalamnya, yaitu untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran, dan untuk memeberi pengetahuan serta kebijaksanaan. di atas semua itu pengetahuan sejati ialah hikmat yang menghormati dan menaati Tuhan. landasan yang diperlukan oleh hikmat dinyatakan dengan jelas takut akan Tuhan. Konsep takut kepada Tuhan dalam kitab Amsal sangat berkaitan dengan pengenalan tentang Allah, berbeda dengan agama kafir kuno yang diselimuti terhadap dewa mereka tanpa mengenalnya, monotaisme yahudi pengenalan dan hormat sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. lebih jauh takut kepada Tuhan bukan hanya masalah teoritis tetapi praktis; dan ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang benar. Jadi baiklah Remaja Pemuda yang Bijak mendengar dan menambah Ilmu dan baiklah Remaja Pemuda yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan, Untuk mengerti Amsal dan Ibarat, perkataan Teka-teki Orang Bijak. Hal ini menekankan supaya kita remaja pemuda yag bijak menjadi lebih bijak lagi dalam menghadapi era digital ini. Diatas Dari semua itu Amsal ini menekankan supaya kita berhikmat karena hikmat melindungi seseorang dari hawa nafsu yang rendah dan akibat-akibatnya, sebagai mana dalam perkembangan teknologi pasti mempunyai dampak negative bagi perkembangan remaja pemuda. Di karenakan kita salah mengunakan teknologi yang canggih ini, apalagi di zaman era digital paling cepat untuk mengetahui informasi dan mengembangkan ekonomi digital. Sebagaimana remaja pemuda yang salah mengunakan teknologi akan mengakibatkan tindakan yang bodoh dan kemalasan dan dari Perzinahan dan dari Godaan duniawi apalagi dalam era digital ini yang akan merusak generasi. Asal mengatakan Hikmat lebih baik dari pada Kebodohan, karena Hikmat berasal dari Tuhan dan banyak Gunanya apalagi dalam perkembangan Tekonologi Industri 4.0.
Kita sebagai Remaja Pemuda harus memperiapkan agar menjadi Terampil, Prefosional Kompetitif dan produktif dalam menghadapi Revolusi industri ke empat atau 4.0 yang menandai era baru dalam digitalisasi industri. Sebagaimana lewat revolusi 4.0 atau Era Digital ini Indonesia menargetkan masuk dalam 10 ekonomi terbesar dunia tahun 2030, sebagai Pemuda remaja Kita sebagai Pelaku utama harus Bijak dan berdampak dalam membangun Bangsa kita walaupun berbagai tantangan muncul mewujudkan Indonesia 4.0 dari membangun infrastruktur hingga pemantapan kompetensi SDM, agar tidak tersalip arus modernisasi dan menjadi remaja pemuda yang menjadi Berkat.
Soli Deo Gloria.

Sabtu, 14 September 2019

Disiplin Rohani ( Ibrani 12:1-12 )



Sebenarnya disiplin dapat dilakukan melalui banyak hal, bukan hanya melalui peraturan, tapi dapat diterapkan melalui kegiatan. Dalam masyarakat Yunani contohnya, disiplin itu dilatih melalui pendidikan, atau disiplin “ilmu pengetahuan”, lazimnya disebut gnostik, yang melahirkan ilmu-ilmu filsafat. Disiplin mereka juga dilakukan melalui melalui olah raga, yang kemudian melahirkan cabang olahraga yang populer. Diantaranya seperti: lari cepat, tinju, dan circus. Pada jaman Yunani ini, juga sudah lahir olahraga tinju, gulat, lompat tinggi, lempar lembing, dan lain-lain. Sebelum peserta masuk pertandingan, mereka diharuskan melatih diri dengan disiplin dan matang, setelah itu diuji dan barulah diijinkan untuk bertanding.


Untuk orang-orang Romawi jenis olahraganya pun berbeda dengan jenis olahraga orang-orang Yunani. Olahraga orang Romawi disebut “perkelahian gladiator”. Olahraga ini adalah perkelahian antara manusia dengan binatang buas, manusia dengan manusia ataupun binatang buas dengan binatang buas. Peserta dari olahraga ini biasanya orang-orang kriminal yang ada di penjara-penjara Romawi. Mereka dilatih sedemikian rupa untuk dipertontonkan di muka umum. Pertandingan ini dinyatakan selesai apabila ada salah satu pesertanya cidera hingga mati dan darah korban biasanya dipersembahkan kepada berhala. Dan bagi peserta yang menang, ia akan dibebaskan dari penjara. Pertandingan olahraga yang mematikan ini menuntut pesertanya untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh dan dengan disiplin tinggi apabila ia tidak ingin menjadi korban. ini adalah gelanggang pertandingan rohani yang di kelilingi oleh begitu banyak penonton rohani. Kita juga membutuhkan disiplin diri supaya dapat memenangkan pertandingan iman. Kalau kita gagal, kita juga akan di disiplin oleh Tuhan supaya kita kelak dapat merebut kemenangan. Disiplin rohani yang harus kita kerjakan untuk memenangkan pertandingan iman adalah seperti apa ditulis dalam kitab Ibrani pasal 12:1-12, yakni:
Yang Pertama, kita harus meninggalkan beban dan dosa yang merintangi kita untuk memenangkan pertandingan iman tersebut. Kata yang digunakan untuk meninggalkan beban dan dosa dalam ayat ini adalah “membuang segala sesuatu yang menjadi beban”. Beban-beban dosa yang sering menghalangi kita memang harus dibuang dari hidup kita seperti keinginan-keinginan daging dan dosa-dosa yang menjadi kesukaan kita. Membuang segala beban dosa dan menganggapnya sampah yang tidak berguna dan harus dibersihkan dari jiwa kita. Sampah-sampah duniawi ini tidak boleh diberikan tempat dalam kehidupan iman karena akan membuat bahtera rohani kita menjadi tenggelam.
Yang Kedua, kita harus berlomba dengan tekun dalam perlombaan iman yang sudah diwajibkan oleh Tuhan. Disini kita tidak dipanggil oleh Tuhan untuk hidup pasif atau kita sudah cukup puas dengan keadaan sudah diselamatkan oleh Yesus. Kita dipanggil untuk maju dalam iman, bertumbuh, melayani dan menjadi saksi-saksi hidup, bahkan dalam penderitaan. Ini merupakan kewajiban bukan pilihan.  
Yang Ketiga, dalam memenangkan pertandingan iman, kita harus melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang telah memulai rencana yang indah dalam hidup kita dan akan menyelesaikan rencana itu apabila kita   hidup dalam ketaatan dan dalam disiplin rohani. Dengan menujukan mata iman kepada Yesus, kita mempunyai tujuan dan sasaran untuk mencapai sesuatu yang berharga bagi hidup kita. Tujuan yang hendap dicapai adalah penggilan sorgawi seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam Filipi 3:14, yaitu “berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dalam Kristus Yesus.
Yang Keempat, dalam perlombaan iman kita harus ingat akan Dia yang sudah mengalami perlombaan tersebut dengan penderitaan yang berat di kayu salib. Dalam mengingat Dia, kita meneladani Kristus yang telah menjadi teladan bagi kita. Apabila kita mengalami penderitaan dalam pertandingan iman ini, maka hati kita akan tetap pada Dia dan terhibur karena Ia sendiri telah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar untuk kita semua. Memang di dunia ini tidak ada teladan yang sempurna seperti Kristus. Dia adalah figur yang terbaik untuk kita. Identitas dan integritasNya teruji oleh kesukaan dan penderitaan. Dalam perlombaan ini, kita harus percaya bahwa Kristus menyertai kita dan menolong kita saat kita tidak mampu untuk menanggungnya. Yesus tidak akan membiarkan penderitaan itu melampaui kemampuan kita. Setiap saat Ia ada bersama kita. 

Disiplin rohani memang mempunyai manfaat yang besar dalam pengiringan kita kepada Tuhan. Kita dilatih untuk aktif dalam segala hal dan siap menghadapi segala tantangan dan ujian. Kita akan mapu melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan namaNya. Dalam disiplin rohani iman percaya kita akan bertumbuh secara wajar dan normal dengan mengikuti rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Apapun yang kita hadapi dalam dunia ini akan tetap berada dibawah kendali disiplin iman kita yang sudah terlatih. Dengan disiplin rohani kita akan sanggup mencapai tujuan akhir yakni mahkota surgawi yang tersedia bagi kita.

Sabtu, 07 September 2019

DI PILIH UNTUK MENGASIHI ( Yohanes 15:9-17 )




Setiap orang butuh dikagumi. Kita butuh di cintai,butuh dipelihara,butuh dijaga, disembuhkan dan dikasihi. Selanjutnya kita juga butuh ditemani, diterima, diampuni, didamaikan, didampingi, dimengerti, ditolong, diakui, disambut dan di hargai. Kita juga butuh di bimbing, dihibur, diarahkan, di topang, diberi petunjuk dan diberi kebebasan. Semua itu merupakan kebutuhan dasariah kita; dan Setiap orang pasti memiliki ciri-ciri khusus yang membuat orang lain mudah untuk mengenalinya, baik itu dalam penampilan maupun karakteristiknya. Sama halnya dengan pengikut Kristus, yaitu orang Kristen. Kita juga sebagai seorang pengikut Kristus seharusnya memiliki ciri khas yaitu hidup dalam “kasih”. Orang bisa mengenal kita sebagai orang Kristen dari kasih yang kita miliki dan yang kita terapkan. Mengapa kita harus mengasihi, untuk apa kita harus mengasihi dan siapakah yang harus kita kasihi?
1.      Berkat yang Dapat Kita Peroleh dengan Mengasihi
·         Mendapat sukacita penuh yang bersumber dari Tuhan (Ay. 11 – 12)
Yesus menjanjikan sukacita bagi yang hidup dalam kasih. Dia mengungkapkan kata “sukacita”, bukan kata “bahagia”. Kebahagiaan dapat kita ciptakan dan dapatkan dari dunia ini dengan usaha kita sendiri, namun sukacita bersumber dari Allah dan merupakan buah dari Roh. Sukacita Tuhan akan ada pada kita yang hidup dalam kasih sehingga sukacita kita penuh
·         Menjadi sahabat-Nya (Ayat 13 – 15)
Dalam tradisi Yahudi, sangat gampang membedakan antara hamba dengan sahabat. Seperti yang sudah kita ketahui, seorang hamba itu adalah orang yang bisa diperlakukan sesuka hati oleh tuannya. Seorang hamba tidak memiliki hak apa-apa, bahkan tidak berhak atas nyawanya, dia juga tidak tahu apa yang diperbuat tuannya dan dia harus mengabdi kepada tuannya. Sementara sahabat adalah orang yang paling dekat dengan kita dan yang paling mengerti akan pribadi kita. Bahkan sering seorang seorang sahabat lebih mengerti pribadi kita dibanding orang tua atau saudara-saudara kita. Seorang sahabat juga mau berkorban untuk sahabatnya, bukan malah mengorbankan sahabatnya untuk kepentingannya. Yesus sendiri sebagai sahabat yang baik, tidak hanya mengajarkan bagaimana gambaran seorang sahabat yang baik, tetapi lebih dulu menunjukkan dan mempraktekkan bagaimana karakter seorang sahabat yang baik dan benar. Dia mengorbankan nyawa-Nya untuk kita atas kesalahan dan dosa kita. Berarti menjadi sahabat yang baik juga harus mau berkorban, memiliki kesetiaan dan solidaritas yang tinggi terhadap sahabatnya. Seorang sahabat juga mengetahui apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya, sama seperti Yesus yang memberitahukan segala  sesuatu  yang Dia dengarkan dari Bapa-Nya yang di sorga.
·         Dipilih menjadi sahabat-Nya dan sarana-Nya menunjukkan identitas seorang Kristen (Ay. 16a)
Sering kita berfikir bahwa kitalah yang memilih Yesus menjadi Juruselamat kita dan menjadi Tuhan kita. Namun sebenarnya, bukan kita yang memilih Yesus menjadi sahabat kita, tapi Dialah yang memilih kita. Allah yang memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Allah yang memilih nabi-nabi menjadi penyambung lidah-Nya. Dia yang memilih para imam dan raja-raja untuk memimpin bangsa Israel. Yesus yang memilih para murid-Nya sebagai kader-Nya yang akan meneruskan pengabaran berita sukacita. Dia juga yang memilih kita untuk diselamatkan, dan Dia juga yang memilih kita menjadi sahabat-Nya. Pertanyaannya adalah, maukah kita menjadi sahabat Yesus? Menjadi sahabat Yesus berarti mau melakukan segala apa yang telah Dia lakukan yaitu hidup dalam kasih tanpa mencari keuntungan pribadi.

·         Dipakai Tuhan menjadi berkat dan saluran berkat (Ay. 16b)
Untuk bisa menjadi orang yang hidup dalam kasih, kita terlebih dahulu menerima kasih yang bersumber dari Allah (pasif), artinya Allah yang bekerja. Dan setelah kita merasakan aliran kasih Tuhan,  maka kita bisa merasakan bagaimana indahnya kasih itu. Akan tetapi berkat dan kasih karunia yang kita terima itu bukan untuk kita nikmati sendiri. Tuhan ingin memakai kita menjadi berkat dimanapun kita berada. Artinya, keberadaan kita menjadi sukacita bagi sesama kita dan berkat yang kita terima juga harus bisa kita bagikan kepada yang membutuhkan (kita menjadi saluran berkat Tuhan). Disinilah nyata bahwa kasih itu adalah wujud nyata dari iman kita tidak hanya konsep ataupun sebatas perkataan.
2.      Mengasihi adalah Perintah Yesus yang Harus Diterapkan (ay. 17)
Ayat ini kembali Yesus menegaskan keharusan dan kewajiban yang harus dilakukan oleh pengikut Kristus. Kita diperintahkan untuk mengasihi satu dengan yang lain. Artinya kita harus saling mengasihi satu dengan yang lain, berarti mengasihi semua orang. Kita dituntut menjadi pribadi yang aktif dalam menunjukkan identitas iman kita. Kita tidak diajarkan untuk ‘hanya’ mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi satu dengan yang lain. Tidak ada batasan untuk mengasihi. Dalam menerapkan kasih, tidak ada orang kaya, orang miskin, tua, muda, dsb. Yesus tidak menginginkan kita memilih-milih orang untuk dikasihi. Yesus sendiri membuktikan bahwa dia mengasihi semua orang, bahkan orang-orang yang dikucilkan dan direndahkan, orang-orang cacat dan juga orang-orang yang dianggap sebagai orang berdosa. Jadi Yesus tidak hanya mengajarkan konsep belaka kepada para murid-Nya, namun Dia mengajarkan apa yang telah Dia perbuat di tengah-tengah pelayanan-Nya
Ø  Aplikasi
1.      Kita telah memahami ajaran Yesus yang mengajarkan bagaimana kita harus hidup dalam kasih sebagai wujud iman kita. Ada tiga hal yang harus tinggal dalam dari manusia (khususnya pengikut Kristus), yaitu : Iman, Pengharapan dan Kasih. Dan yang paling besar diantaranya adalah kasih (1 Kor. 13:13).
2.      Mengasihi  bukan karena kita dikasihi orang/ sesama kita, tapi karena Allah lebih dulu mengasihi kita. Sehingga kita mampu mengasihi siapapun dia, bagaimanapun statusnya, dan yang lebih luar biasa, kita harus mampu mengasihi meskipun orang lain membenci atau memusuhi kita. Mengasihi bukan supaya orang yang kita kasihi memuji kita, tetapi agar mereka memuji Tuhan yang mengajari kita untuk mengasihi. Karena jika kita mengasihi agar mendapat pujian, maka Paulus mengatakan itu tidak akan ada artinya. Sekalipun kita mau membagi-bagikan segala sesuatu yang ada pada kita, bahkan menyerahkan tubuh kita  untuk dibakar, jika kita tidak memiliki kasih yang benar atau supaya dipuji oleh orang lain, maka sebenarnya semua itu tidak akan ada artinya (bd. 1 Kor. 13:3)
3.      Dengan demikian sesuai dengan perintah Yesus dalam ayat 7, maka kita diharuskan untuk saling mengasihi yang satu dengan yang lain. Sikap inilah yang menjadi penerapan akan kasih kepada Allah.  I Yohanes  4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Maka sebagai orang Kristen kasih kepada Allah dan kepada sesama adalah hukum yang paling utama dalam ajaran Yesus dan hukum itulah yang  harus kita terapkan dalam kehidupan kita, dalam pelayanan kita, dalam perkerjaan kita maupun dalam keluarga kita. Sehingga melalui kasih yang nyatalah maka nyata pula kita sudah tinggal di dalam kasih Allah. Karena orang yang tinggal dalam kasih yang bersumber dari Allah akan mendapat sukacita yang penuh.
Tuhan Yesus memberkati.
SOLI DEO GLORIA


Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

  Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas Ayat Alkitab:   Ay. 38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm.      11:33...