Minggu, 10 Mei 2020

Complete Sovereignty of God Ayub 2:1-13


Complete Sovereignty of God
Ayub 2:1-13


Pernahkah anda berfikir kenapa Allah harus membiarkan covid—19 terus berkembang dan kematian dalam jumlah besar. Padahal, Allah mampu menghentikan jika Allah mau. Tapi kenapa sepertinya Allah membiarkannya?.

Pada umumnya, setiap orang ingin mempertahankan hidupnya. Usaha untuk mempertahankan hidup dapat kita jumpai berupa memeriksakan kesehatan secara rutin, membangun sistem keamanan diri, membayar nilai asuransi, bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup, mengatur finansial dan menabung secara ketat, supaya mempertahankan nyawanya. Dalam Kitab Ayub, Iblis pernah berkatakepada Tuhan: “kulit ganti kulit- orang akan memberikan apa yang dipunyainya ganti nyawanya”. (Ayub 2:4).  
Kalimat yang dilontarkan iblis kepada Allah ini merupakan bagian dari percakapan iblis dan Allah bagian kedua setelah percakapan iblis dan Allah dibagian pertama dalam (Ayub 1:6-12). Topik yang dibicarakan iblis dan Allah dibagian yang kedua ini masih tentang Ayub. Namun bedanya, dalam percakapan yang pertama membahas tentang penderitaan Ayub akibat kehilangan segala harta milik dan keluarganya. Bagian yang kedua ini langsung berkaitan dengan keadaan Ayub sendiri. Setelah Ayub kehilangan harta dan keluarganya, dalam kemiskinannya itu, Ayub hanya tinggal memiliki kesehatan dan kesalehannya saja. Dalam percakapan kedua ini, iblis menginginkan kesehatannya  diambil dari hidup Ayub. Dan Tuhan mngizinkannya.  

Ayub mengalami keadaan yang begitu parah dibawah “kekuasaan” iblis. Tubuhnya penuh borok yang membusuk dari kepala sampai ke ujung kakinya. Begitu sakit dan mungkin sangat gatal, Alkitab mencatat, tubuhnya sendiri digaruk dengan pecahan beling yang tajam sehingga memperparah luka-lukanya.(ay.8) Keadaan itu tidak tercatat berapa lama berlangsung, tetapi secara medis, pastilah lama untuk luka membusuk disekujur tubuh.  

Dua respon Ayub menjadi pelajaran penting bagi kita ketika menghadapi penderitaan. 
  1. Tekun dalam kesalehannya (Ayat 3,9) 
Ayub mengalami penderitaan dalam ketidakbersalahannya. Borok busuk yang menimpa Ayub adalah prakarsa iblis yang diizinkan Allah menimpa dirinya. Tetapi Ayub tetap tekun dalam kesalehannya. Ayub merupakan teladan ketabahan yang sabar ditengah penderitaan yang bukan merupakan kesalahannya. Ayub tekun dalam kesalehannya. Kata tekun “strengthen” memiliki arti memperkuat dan mengeras, berani, tegas, menang. Dalam kesalehan: integrity & completeness berarti integritas yang lengkap. Ayub memperkuat dan mengeraskan tekadnya untuk tidak berdosa. Ketegasannya untuk tidak mengkhianati Allahnya juga tercermin dalam integritas hidupnya yang lengkap, artinya kesalehannya dihadapan Tuhan tidak ada yang berkurang, meskipun pun penderitaan yang pertama belum selesai dengan dampaknya, masih ditambah dengan pencobaan kedua sekarang ini. Ujian manusia adalah penderitaan, maknanya besar, karena dalam pergulatan penderitaan nama Tuhanlah yang dipertaruhkan dalam sepanjang zaman, apa itu? Ketika pertentangan iblis dan Allah terjadi. Tetapi Ayub membuktikan sebagai teladan orang benar yang menderita. Yang membuktikan Allah selalu menang dalam pertentangan itu. Ayub tidak kehilangan sesuatu yang terpenting dalam hidupnya yakni iman. Dia menang dan tetap tekun dalam kesalehannya tanpa dikasih kendor. 

  Bukankah ini seperti tipologi Kristus bagi kita? Kristus menderita bukan karena kesalahanNya, tetapi bagi kesalahan kita. Konsekuensinya, Kristus menderita disalibkan bagi dosa kita. Kristus taat sampai selesai, lengkap dan tidak ada yang dikurangi.  

Covid-19, Penderitaan yang berasal dari luar diri kita. Yang kita tahu siapa yang memulainya. Namun, dampak besar kita rasakan. Mulai dari ibadah mandiri, jaga jarak, perubahan salaman, dan yang paling terpenting tetap di rumah (Stay at home). Teramat sulit lagi dampak dari Covid-19 yaitu kebutuhan pokok yang harus terpenuhi. Akan tetapi, haruslah kita memaknai itu dengan tetap tekun dan saleh dihadapan Tuhan tanpa ada keinginan untuk menguranginya. Kemurnian iman kita ditunjukkan dengan tetap hidup benar ditengah penderitaan.
 
2. Meyakini segala sesuatu berasal dari Allah ( Ayat 10) 

Terang sekali Ayub disini dilanda penyakit yang mengerikan. Tetapi istrinya juga memberikan saran yang jauh dari dugaannya. “kutukilah Allahmu dan matilah”. (ay.9)Sebuah saran yang mengharuskan dirinya tidak hidup saleh dihadapan Allah. Pernahkah saudara mengalaminya? Namun jawaban Ayub mencerminkan kekuatan iman yang tegar. “engkau berbicara seperti perempuan gila, apakah engkau mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? (ay.10) Pernyataan Ayub di sini diungkapkan sebelum keadaannya dipulihkan. Hal ini berarti bahwa apa yang dia maksudkan dengan “menerima yang baik” tidak mencakup pemulihan keadaannya. Ayub pada kenyataannya masih sakit parah, kehilangan harta dan keluarga serta mendapat perlakuan kurang baik dari sang istri. Apa yang terlihat sebagai musibah (perampokan) tetaplah rencana Allah. Apa yang dipandang sebagai kebetulan dan alamiah (bencana alam) adalah bagian dari rencana Allah. Apa yang tampak begitu buruk (penyakit kulit) merupakan rencana-Nya. 

Ayub mengakui bahwa dibalik segala sesuatu, termasuk kesengsaraan yang menimpa dia, ada rencana Allah. Rencana in bersifat pasti. Dia sanggup menuntaskan rencana tersebut. Bukan hanya itu, rencana ini juga bersifat pasti karena tidak bisa digagalkan oleh siapapun. Allah menunjukkan kedaulatanNya yang mutlak atas segala sesuatu. Alam semesta dipenuhi dengan begitu banyak petunjuk tentang kekuasaanNya. Dia memutuskan, melakukan, dan mengatur segala sesuatu. Jika Ayub memandang segala sesuatu yang menimpa dia sebagai rencana Allah, maka semua peristiwa di pasal 1-2 juga termasuk didalamnya. Ini berarti bahwa tindakan iblis tidak berada di luar rencanaNya (1:6-12;2:1-6). Ketika Allah membiarkan iblis melakukan keinginannya yang jahat, pembiaran itu merupakan bagian dari rencanNya. Ini bukan sekedar pembiaran pasif. Ini pembiaran yang berdaulat. Tuhan mengizinkannya. Walaupun semua adalah rencana Allah, bukan berarti Allah secara aktif dan langsung terlibat di dalamnya. Iblislah yang menjadi actor intelktual. Dia menggunakan orang-orang jahat dan alam untuk menyengsarakan Ayub. Bagaimanapun, hal itu tetap tidak meniadakan kedaulatan Allah.

Poin ini sangat penting untuk ditekankan, karena banyak orang Kristen menganggap jawaban atas semua persoalan adalah perubahan keadaan. Sakit disembuhkan, kekurangan dicukupi, berada dalam bahaya dilepaskan, dan sebagainya. Tidak demikian dengan Ayub. Dia sudah menang, bahkan sebelum ada perubahan keadaan. Solusi sejati seringkali bukanlah perubahan keadaan, melainkan perubahan diri kita sendiri. Pengenalan kita terhadap Allah diperdalam. Persandaran kita kepadaNya dikokohkan. Karakter kita semakin serupa dengan Allah. Itulah yang terjadi dalam kasus Ayub. Kita menjadi orang yang lebih siap untuk menerima segala situasi, baik ataupun yang buruk. Dan kita tetap meyakini bahwa segala sesuatu ada dibawah kedaulatan Allah. Cara pandang kita terhadap Allah yang berkuasa atas segala sesuatu tetap menjadi dasar atas cara pandang kita sebagai manusia yang lemah dan terbatas. Inilah pelajaran berharga bagi kita hari ini. 

KEDAULATAN ALLAH YANG DIMILIKI ATAS SETIAP KEHIDUPAN ORANG PERCAYA ITU BERSIFAT PERMANEN. TIDAK BISA DITUKAR DENGAN APAPUN ITU. HIDUP ATAU MATI PUN HANYA ADA PADA KEDAULATAN ALLAH SANG PEMILIK HIDUP. KEADAAN MUNGKIN MENGHIMPIT IMAN, KASIH DAN PENGHARAPAN KITA. NAMUN, AYUB MAMPU MEMBUKTIKAN ITU SEMUA. YANG TERPENTING, TEKUN DALAM KESALEHAN DAN MENYAKINI SEGALA SESUATU DARI ALLAH.


Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

  Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas Ayat Alkitab:   Ay. 38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm.      11:33...