Integritas Anak Tuhan
Matius 22:15-22
Pola
Kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus merupakan contoh integritas nyata yang kita
dapat tiru, karena itulah Ia selalu menjadi sorotan dalam kalangan orang pada
zaman itu. Integritas dalam arti sempit yaitu suatu konsep yang menunjukkan konsistensi
antara tindakan dan prinsip. Dalam kondisi ini sangat umum dimana orang
percaya, tokoh-tokoh agama, pejabat-pejabat tinggi negara menjadi sorotan Publik.
Yang berbandig terbalik dengan kehidupan masyarakat biasa. Mereka ini selalu
menjadi perhatian masyarakat umum dimana integritas hidup mereka selalu
dipertanyakan, gerak-gerik mereka ditelusuri, apa yang mereka buat menjadi
bahan pembicaraan. Sehubungan dengan ini, dalam kehidupan Tuhan Yesus, Ia
sering menerima kritikan, pertanyaan, jebakan, pujian, dan bahkan hinaan,
karena Ia seorang tokoh yang berbeda dibandingkan dengan tokoh-tokoh agama yang
lain di jamanNya. Untuk itu mari kita lihat tanggapan orang-orang Farisi kepada
Yesus prihal integritasNya dan memetik pelajaran dari pengalaman Tuhan Yesus
yaitu:
Yang
Pertama, Yesus
dikenal sebagai seorang guru yang jujur dalam kata perbuatannya. Informasi yang
diberikanNya selalu jelas dan tepat. Dalam hal perkataan, Ia tidak bercela.
Kejujurannya dalam memberikan informasi membuat Ia dikenal, dipercayai, dan
diterima ajarannya oleh banyak orang, bahkan lebih dari orang-orang Farisi.
Kontras dengan Yesus, orang-orang farisi, selalu menggunakan ketidakjujuran
supaya dipercaya, mendapatkan ketenaran, kedudukan, dan kuasa. Cara ini memang
lebih mudah dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Yesus yang membawaNya
hingga ke atas kayu salib. Isu-isu kejujuran memang sangat sensitif. Mulai dari
yang muda sampai tua, kejujuran
seringkali menjadi persoalan dengan kasus-kasus yang berbeda. Hampir semua
buku-buku yang menulis tentang kepemimpinan dan kehidupan Kristen selalu
menyinggung soal kejujuran.
Untuk
kalangan muda misalnya, menurut Josh McDowell: tujuan dari ketidakjujuran yang
dilakukan seseorang adalah untuk mencapai sesuatu dengan mudah. Pada suatu
hari, pernah diadakan riset untuk kalangan anak muda di Amerika Serikat yakni
dari 13 Denominasi Injili, dengan ribuan gereja dibawahnya. Mereka berhasil
mengumpulkan informasi dari 3700 pemuda yang sudah bergereja, aktif sekolah
minggu, kegiatan pemuda, pendalaman Alkitab, dan orangtua mereka yang mengasihi
Tuhan. Hasil dari riset ini adalah:
66% biasa tidak jujur kepada
orangtuanya, guru, dan orang dewasa lainnya. 59% tidak jujur dengan teman
sendiri. 35% biasa tidak jujur dengan ujian. Menurut Josh McDowell,
ketidakjujuran ini berhubungan dalam
segala hal dan dapat dipupuk hingga dewasa.
Di dunia promosi,
iklan-iklan di televisi maupun surat-surat kabar, kejujuran itu merupakan hal
yang sangat serius. Tujuan dari promosi-promosi itu adalah untuk
keuntungan-keuntungan materi tanpa memikirkan kualitas dari produk-produk yang
didagangkannya dan akibat yang negatif yang mungkin dialami oleh si pemakai
produk tersebut. Segala bentuk promosi selalu membuat banyak orang terpikat dan
jatuh kedalam materialisme dan menerima promosi itu sebagai prinsip hidup.
Promosi-promosi yang tidak sebenarnya telah menjadikan kepalsuan menjadi
kebenaran. Benarlah apa yang dikatakan oleh Karl Max: Apabila seseorang itu
berdusta sebanyak 100 kali, maka dusta itu akan menjadi kebenaran. Gaya
hidup promosi dan ketidakjujuran akan mengelabuhi dan mengorbankan banyak
orang. Pada akhirnya orang akan jatuh
kedalam dusta dan mempercayai dusta itu sebagai suatu kebenaran. Inilah filsafat
dusta dari Karl Max. Ia menjerumuskan orang banyak dengan politik dusta yang
sangat menakutkan. Tapi filsafat dusta tidak dapat bertahan untuk selamanya.
Pada suatu kali dusta itu akan berakhir. Ada
seorang pemuda yang tinggal di tepi hutan. Ia seorang yang suka mempermainkan
kebenaran. Suatu hari ia berteriak-teriak di tengah hutan dan meminta
pertolongan bahwa ada harimau yang mau menerkamnya. Lalu orang-orang
sekampungnya datang dengan membawa senjata untuk menolongnya. Rupa-rupanya ia
hanya bergurau sehingga penduduk menjadi marah. Pada hari yang berikutnya,
pemuda ini memasuki hutan kembali, disana ia bertemu dengan seekor beruang yang
lapar dan hendak menerkamnya. Lalu ia berteriak-teriak meminta tolong kepada
penduduk sekitarnya. Namun tidak ada seorangpun yang muncul karena dianggap
pemuda ini hanya bermain-main kata saja. Akhirnya pemuda ini dicabik-cabik oleh
beruang yang ganas, dan ia tewas tanpa ada yang menolongnya. Kepercayaan kepada dusta akhirnya berakhir.
Dan dusta tidak bisa dijadikan suatu landasan kebenaran.
Kalangan
hamba Tuhan: menurut Jack Hayford: banyak hamba-hamba Tuhan yang tidak jujur dalam
memberikan informasi. Mereka cenderung menambah-nambah informasi yang dimiliki
mereka. Tujuannya supaya mereka disegani orang, untuk tujuan popularitas,
kedudukan, dan bahkan untuk kepentingan keuangan. Padahal menurut Jack Hayford
kita tidak perlu menggunakan diplomasi seperti itu, karena Allah dapat
mengangkat dan memberkati seseorang dengan cara-cara yang benar. Daud saja yang
tidak pernah bersekolah dapat diangkat Tuhan menjadi seorang pemimpin besar
tanpa melalui kelicikan dan penipuan. Kejujuran Abimelek dalam mencari menantu
untuk Abraham telah dijadikan berhasil oleh Allah dalam usahanya. Seringkali
orang-orang ingin mengangkat diri dan memberi informasi palsu dengan berbagai
macam cara untuk tujuan-tujuan yang tidak
terpuji.
Dalam Kehidupan kita
juga dapat menemukan usaha-usaha dari individu-individu untuk mengangkat
derajat hidup kita. Sebagaimana kita tahu bahwa gelar merupakan sesuatu yang
plus. Sehingga orang sering mengelabuhi publik dengan gelar-gelar yang
palsu. Orang-orang percaya ditantang
untuk hidup sejujurnya dalam mengiringi Tuhan. Saudara-saudara harus hidup taat
kepada Tuhan dan hidup sebagaimana adanya supaya Allah memberkati dengan
benar. Seperti yang dikatakan oleh
Paulus dalam I Korintus 15:10:
Tetapi karena
kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang. Dan kasih karunia
yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Tetapi sebaliknya aku telah
bekerja lebih keras daripada mereka semuanya; tetapi bukanlah aku, melainkan
kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Apabila kita
hidup dalam kasih karunia Tuhan maka kita dapat hidup sebagaimana adanya, kita
tidak akan mengaku, memberi informasi dan mengangkat-angkat diri kita
sebagaimana kita tidak ada. Hidup dalam kasih karunia Allah menjadikan
seseorang hidup memuliakan Tuhan dan menghargai anugerah Allah dalam dirinya.
Ia tidak akan berusaha mencuri kemuliaan Tuhan dengan memakai topeng-topeng
ketidak jujuran atau topeng-topeng kerohanian yang sesungguhnya tidak ia
miliki. Ia akan menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki integritas yang benar dan
menyinari lingkungannya dengan terang Kristus yang dimilikinya. Ia tidak akan
menggunakan alat lain untuk menjadi terang dan berkat kecuali dengan terang
kasih karunia Kristus yang ia telah alami bersama Kristus. Kasih karunia Kristus menjadikan anak-anak
Tuhan hidup berharga dan yakin akan jati dirinya. Kasih karunia membuat seseorang
dapat menerima keberadaannya yang telah dipercayakan oleh Kristus. Ia memiliki
keyakinan akan dirinya sebagai seorang yang ditebus dan berharga di hadapan
Allah dan manusia. Oleh sebab itu ia tidak perlu menciptakan sesuatu yang palsu
dan semu. Jati diri Kristus dapat ia miliki melalui kasih karunia Allah. Orang
percaya dituntut untuk selalu hidup dalam Kristus dan meneladani
perbuatan-perbuatan Kristus yang benar.
Yang
Kedua,
kejujuran Yesus dalam segala segi kehidupanNya mempengaruhi ajarannya, dan
sikapnya terhadap dosa. Yesus dikenal sebagai seorang pribadi yang tidak suka
mencari muka, berkompromi dengan dosa. Tapi
Ia adalah seorang yang dikenal
tegas dalam berpegang pada peraturan-peraturan dan perintah-perintah Allah.
Kondisi ini mengakibatkan Yesus tidak disukai oleh banyak ahli-ahli atau
tokoh-tokoh agama. Ini merupakan suatu tantangan bagi Yesus. Tapi Yesus tetap
mempertahankan kekudusan dan kebenaran. Dalam hidupnya, Yesus bukannya seorang
pribadi yang dapat dirayu atau disuap oleh siapapun agar Ia melanggar kebenaran
dan keadilan. Yesus juga tidak mempan dengan jerat-jerat dari perkataan
orang-orang Farisi yang berusaha menjerumuskan dia. Dengan berpegang kepada Ajaran yang benar
Yesus dapat memenangkan segala tipu daya dari orang-orang Farisi yang berusaha
menjerat diriNya.
Yang
Ketiga,
kejujuran Yesus juga nampak dalam bagaimana Ia menanggapi masalah keuangan.
Ketika orang-orang Farisi mencobai Yesus mengenai membayar pajak kepada kaisar,
Yesus menjawabnya dengan satu prinsip dasar, yakni apa yang menjadi milik manusia
harus dikembalikan kepada manusia, dan apa yang menjadi milik Allah akan
menjadi miliki Allah dan tidak boleh diberikan kepada manusia. Apa yang menjadi
milik manusia selama mereka hidup di dunia ini adalah mengerjakan
tanggungjawabnya kepada negara dalam pembayaran pajak. Sedangkan apa yang
menjadi milik Allah adalah kemuliaan dan kuasa dan kejujuran yang tidak boleh
disalahgunakan oleh manusia.
Hanya Karena Uang
atau kekayaan juga telah membawa banyak orang untuk hidup tidak jujur. Mereka
terlah memperkaya diri dengan ketidakjujuran. Mereka beranggapan bahwa tanpa
ketidakjujuran, mereka tidak dapat menjadi kaya. Tapi uang membawa banyak orang
masuk kedalam berbagai-bagai kesulitan dan pergumulan, bahkan kematian. Uang
dapat menjadi hamba yang baik, tapi tuan yang jahat. Kalau saudara dikuasai
oleh keinginan untuk materi, maka saudara akan menjadi hamba uang yang membawa
kepada kebinasaan.
Jadi ketiga hal yang
berhubungan dengan kejujuran ini haruslah menjadi pedoman bagi saudara-saudara
untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Ketiga hal ini adalah bersatu dalam satu
kata, yakni kejujuran. Saudara harus jujur dalam kata dan perbuatan, jujur
dalam memberikan informasi, dan kemudian saudara harus jujur dalam soal
keuangan. Tuhan Allah telah mempercayakan harta yang termulia, yakni kejujuran
itu bagi saudara untuk diterapkan dalam kehidupan saudara dalam mengiringi
Tuhan. Dengan kejujuran ini saudara dapat melayani Tuhan dan sesama manusia.
Kejujuran akan membawa keuntungan bagi orang lain dan tidak merugikan. Kejujuran
menjadikan integritas saudara sebagai anak-anak Tuhan untuk menjadi terang di tengah-tengah
masyarakat yang sedang mengalami krisis kejujuran. Kejujuran membuktikan
saudara sebagai anak-anak Tuhan yang kudus dan mempunyai Allah sebagai Tuhan.
Ketidakjujuran atau dusta menempatkan saudara sebagai anak-anak Iblis, karena
iblis adalah bapa segala dusta dan tipu muslihat.
“Untuk memiliki integritas tidaklah
mudah. Akan banyak hal yag dilalui. Integritas bukan hanya dilakukan dengan
kata-kata namun juga tindakan. Pola hidup Kristus menjadi cermin bagi kia anak-anak
Tuhan. Pegajaran yang berintegritas tinggi itulah yang diberikan bagi kita. Maka,
lakukan integritas dengan tindakan nyata yaitu kejujuran. Dengan kejujuran-kejujuran
sesuai kebenaran yang kita miliki. Jujur akan informasi dan keuangan dengan
tidak ada penambahan ataupun pengurangan sekalipun merugikan. Yakinlah, dengan
menghidupi Integritas Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Integritas
itulah yang akan membuat kita menjadi orang yang dipercayai dan dihormati serta
menjadi teladan sebagai anak Tuhan dimanapun berada.”