Senin, 27 April 2020

Integritas Anak Tuhan Matius 22:15-22


Integritas Anak Tuhan

Matius 22:15-22


            Pola Kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus merupakan contoh integritas nyata yang kita dapat tiru, karena itulah Ia selalu menjadi sorotan dalam kalangan orang pada zaman itu. Integritas dalam arti sempit yaitu suatu konsep yang menunjukkan konsistensi antara tindakan dan prinsip. Dalam kondisi ini sangat umum dimana orang percaya, tokoh-tokoh agama, pejabat-pejabat tinggi negara menjadi sorotan Publik. Yang berbandig terbalik dengan kehidupan masyarakat biasa. Mereka ini selalu menjadi perhatian masyarakat umum dimana integritas hidup mereka selalu dipertanyakan, gerak-gerik mereka ditelusuri, apa yang mereka buat menjadi bahan pembicaraan. Sehubungan dengan ini, dalam kehidupan Tuhan Yesus, Ia sering menerima kritikan, pertanyaan, jebakan, pujian, dan bahkan hinaan, karena Ia seorang tokoh yang berbeda dibandingkan dengan tokoh-tokoh agama yang lain di jamanNya. Untuk itu mari kita lihat tanggapan orang-orang Farisi kepada Yesus prihal integritasNya dan memetik pelajaran dari pengalaman Tuhan Yesus yaitu:
Yang Pertama, Yesus dikenal sebagai seorang guru yang jujur dalam kata perbuatannya. Informasi yang diberikanNya selalu jelas dan tepat. Dalam hal perkataan, Ia tidak bercela. Kejujurannya dalam memberikan informasi membuat Ia dikenal, dipercayai, dan diterima ajarannya oleh banyak orang, bahkan lebih dari orang-orang Farisi. Kontras dengan Yesus, orang-orang farisi, selalu menggunakan ketidakjujuran supaya dipercaya, mendapatkan ketenaran, kedudukan, dan kuasa. Cara ini memang lebih mudah dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Yesus yang membawaNya hingga ke atas kayu salib. Isu-isu kejujuran memang sangat sensitif. Mulai dari yang muda sampai tua,  kejujuran seringkali menjadi persoalan dengan kasus-kasus yang berbeda. Hampir semua buku-buku yang menulis tentang kepemimpinan dan kehidupan Kristen selalu menyinggung soal kejujuran.

Untuk kalangan muda misalnya, menurut Josh McDowell: tujuan dari ketidakjujuran yang dilakukan seseorang adalah untuk mencapai sesuatu dengan mudah. Pada suatu hari, pernah diadakan riset untuk kalangan anak muda di Amerika Serikat yakni dari 13 Denominasi Injili, dengan ribuan gereja dibawahnya. Mereka berhasil mengumpulkan informasi dari 3700 pemuda yang sudah bergereja, aktif sekolah minggu, kegiatan pemuda, pendalaman Alkitab, dan orangtua mereka yang mengasihi Tuhan. Hasil dari riset ini adalah:
66% biasa tidak jujur kepada orangtuanya, guru, dan orang dewasa lainnya. 59% tidak jujur dengan teman sendiri. 35% biasa tidak jujur dengan ujian. Menurut Josh McDowell, ketidakjujuran ini berhubungan dalam  segala hal dan dapat dipupuk hingga dewasa.
Di dunia promosi, iklan-iklan di televisi maupun surat-surat kabar, kejujuran itu merupakan hal yang sangat serius. Tujuan dari promosi-promosi itu adalah untuk keuntungan-keuntungan materi tanpa memikirkan kualitas dari produk-produk yang didagangkannya dan akibat yang negatif yang mungkin dialami oleh si pemakai produk tersebut. Segala bentuk promosi selalu membuat banyak orang terpikat dan jatuh kedalam materialisme dan menerima promosi itu sebagai prinsip hidup. Promosi-promosi yang tidak sebenarnya telah menjadikan kepalsuan menjadi kebenaran. Benarlah apa yang dikatakan oleh Karl Max: Apabila seseorang itu berdusta sebanyak 100 kali, maka dusta itu akan menjadi kebenaran.  Gaya hidup promosi dan ketidakjujuran akan mengelabuhi dan mengorbankan banyak orang.  Pada akhirnya orang akan jatuh kedalam dusta dan mempercayai dusta itu sebagai suatu kebenaran. Inilah filsafat dusta dari Karl Max. Ia menjerumuskan orang banyak dengan politik dusta yang sangat menakutkan. Tapi filsafat dusta tidak dapat bertahan untuk selamanya. Pada suatu kali dusta itu akan berakhir. Ada seorang pemuda yang tinggal di tepi hutan. Ia seorang yang suka mempermainkan kebenaran. Suatu hari ia berteriak-teriak di tengah hutan dan meminta pertolongan bahwa ada harimau yang mau menerkamnya. Lalu orang-orang sekampungnya datang dengan membawa senjata untuk menolongnya. Rupa-rupanya ia hanya bergurau sehingga penduduk menjadi marah. Pada hari yang berikutnya, pemuda ini memasuki hutan kembali, disana ia bertemu dengan seekor beruang yang lapar dan hendak menerkamnya. Lalu ia berteriak-teriak meminta tolong kepada penduduk sekitarnya. Namun tidak ada seorangpun yang muncul karena dianggap pemuda ini hanya bermain-main kata saja. Akhirnya pemuda ini dicabik-cabik oleh beruang yang ganas, dan ia tewas tanpa ada yang menolongnya.  Kepercayaan kepada dusta akhirnya berakhir. Dan dusta tidak bisa dijadikan suatu landasan kebenaran.

Kalangan hamba Tuhan: menurut Jack Hayford: banyak hamba-hamba Tuhan yang tidak jujur dalam memberikan informasi. Mereka cenderung menambah-nambah informasi yang dimiliki mereka. Tujuannya supaya mereka disegani orang, untuk tujuan popularitas, kedudukan, dan bahkan untuk kepentingan keuangan. Padahal menurut Jack Hayford kita tidak perlu menggunakan diplomasi seperti itu, karena Allah dapat mengangkat dan memberkati seseorang dengan cara-cara yang benar. Daud saja yang tidak pernah bersekolah dapat diangkat Tuhan menjadi seorang pemimpin besar tanpa melalui kelicikan dan penipuan. Kejujuran Abimelek dalam mencari menantu untuk Abraham telah dijadikan berhasil oleh Allah dalam usahanya. Seringkali orang-orang ingin mengangkat diri dan memberi informasi palsu dengan berbagai macam cara untuk tujuan-tujuan yang tidak  terpuji.

Dalam Kehidupan kita juga dapat menemukan usaha-usaha dari individu-individu untuk mengangkat derajat hidup kita. Sebagaimana kita tahu bahwa gelar merupakan sesuatu yang plus. Sehingga orang sering mengelabuhi publik dengan gelar-gelar yang palsu.  Orang-orang percaya ditantang untuk hidup sejujurnya dalam mengiringi Tuhan. Saudara-saudara harus hidup taat kepada Tuhan dan hidup sebagaimana adanya supaya Allah memberkati dengan benar.  Seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam I Korintus 15:10:
Tetapi karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada sekarang. Dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Tetapi sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semuanya; tetapi bukanlah aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” 

Apabila kita hidup dalam kasih karunia Tuhan maka kita dapat hidup sebagaimana adanya, kita tidak akan mengaku, memberi informasi dan mengangkat-angkat diri kita sebagaimana kita tidak ada. Hidup dalam kasih karunia Allah menjadikan seseorang hidup memuliakan Tuhan dan menghargai anugerah Allah dalam dirinya. Ia tidak akan berusaha mencuri kemuliaan Tuhan dengan memakai topeng-topeng ketidak jujuran atau topeng-topeng kerohanian yang sesungguhnya tidak ia miliki. Ia akan menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki integritas yang benar dan menyinari lingkungannya dengan terang Kristus yang dimilikinya. Ia tidak akan menggunakan alat lain untuk menjadi terang dan berkat kecuali dengan terang kasih karunia Kristus yang ia telah alami bersama Kristus.  Kasih karunia Kristus menjadikan anak-anak Tuhan hidup berharga dan yakin akan jati dirinya. Kasih karunia membuat seseorang dapat menerima keberadaannya yang telah dipercayakan oleh Kristus. Ia memiliki keyakinan akan dirinya sebagai seorang yang ditebus dan berharga di hadapan Allah dan manusia. Oleh sebab itu ia tidak perlu menciptakan sesuatu yang palsu dan semu. Jati diri Kristus dapat ia miliki melalui kasih karunia Allah. Orang percaya dituntut untuk selalu hidup dalam Kristus dan meneladani perbuatan-perbuatan Kristus yang benar.

Yang Kedua, kejujuran Yesus dalam segala segi kehidupanNya mempengaruhi ajarannya, dan sikapnya terhadap dosa. Yesus dikenal sebagai seorang pribadi yang tidak suka mencari muka, berkompromi dengan dosa. Tapi Ia adalah seorang yang dikenal tegas dalam berpegang pada peraturan-peraturan dan perintah-perintah Allah. Kondisi ini mengakibatkan Yesus tidak disukai oleh banyak ahli-ahli atau tokoh-tokoh agama. Ini merupakan suatu tantangan bagi Yesus. Tapi Yesus tetap mempertahankan kekudusan dan kebenaran. Dalam hidupnya, Yesus bukannya seorang pribadi yang dapat dirayu atau disuap oleh siapapun agar Ia melanggar kebenaran dan keadilan. Yesus juga tidak mempan dengan jerat-jerat dari perkataan orang-orang Farisi yang berusaha menjerumuskan dia.  Dengan berpegang kepada Ajaran yang benar Yesus dapat memenangkan segala tipu daya dari orang-orang Farisi yang berusaha menjerat diriNya.

Yang Ketiga, kejujuran Yesus juga nampak dalam bagaimana Ia menanggapi masalah keuangan. Ketika orang-orang Farisi mencobai Yesus mengenai membayar pajak kepada kaisar, Yesus menjawabnya dengan satu prinsip dasar, yakni apa yang menjadi milik manusia harus dikembalikan kepada manusia, dan apa yang menjadi milik Allah akan menjadi miliki Allah dan tidak boleh diberikan kepada manusia. Apa yang menjadi milik manusia selama mereka hidup di dunia ini adalah mengerjakan tanggungjawabnya kepada negara dalam pembayaran pajak. Sedangkan apa yang menjadi milik Allah adalah kemuliaan dan kuasa dan kejujuran yang tidak boleh disalahgunakan oleh manusia.
Hanya Karena Uang atau kekayaan juga telah membawa banyak orang untuk hidup tidak jujur. Mereka terlah memperkaya diri dengan ketidakjujuran. Mereka beranggapan bahwa tanpa ketidakjujuran, mereka tidak dapat menjadi kaya. Tapi uang membawa banyak orang masuk kedalam berbagai-bagai kesulitan dan pergumulan, bahkan kematian. Uang dapat menjadi hamba yang baik, tapi tuan yang jahat. Kalau saudara dikuasai oleh keinginan untuk materi, maka saudara akan menjadi hamba uang yang membawa kepada kebinasaan. 

Jadi ketiga hal yang berhubungan dengan kejujuran ini haruslah menjadi pedoman bagi saudara-saudara untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Ketiga hal ini adalah bersatu dalam satu kata, yakni kejujuran. Saudara harus jujur dalam kata dan perbuatan, jujur dalam memberikan informasi, dan kemudian saudara harus jujur dalam soal keuangan. Tuhan Allah telah mempercayakan harta yang termulia, yakni kejujuran itu bagi saudara untuk diterapkan dalam kehidupan saudara dalam mengiringi Tuhan. Dengan kejujuran ini saudara dapat melayani Tuhan dan sesama manusia. Kejujuran akan membawa keuntungan bagi orang lain dan tidak merugikan. Kejujuran menjadikan integritas saudara sebagai anak-anak Tuhan  untuk menjadi terang di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami krisis kejujuran. Kejujuran membuktikan saudara sebagai anak-anak Tuhan yang kudus dan mempunyai Allah sebagai Tuhan. Ketidakjujuran atau dusta menempatkan saudara sebagai anak-anak Iblis, karena iblis adalah bapa segala dusta dan tipu muslihat. 

“Untuk memiliki integritas tidaklah mudah. Akan banyak hal yag dilalui. Integritas bukan hanya dilakukan dengan kata-kata namun juga tindakan. Pola hidup Kristus menjadi cermin bagi kia anak-anak Tuhan. Pegajaran yang berintegritas tinggi itulah yang diberikan bagi kita. Maka, lakukan integritas dengan tindakan nyata yaitu kejujuran. Dengan kejujuran-kejujuran sesuai kebenaran yang kita miliki. Jujur akan informasi dan keuangan dengan tidak ada penambahan ataupun pengurangan sekalipun merugikan. Yakinlah, dengan menghidupi Integritas Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Integritas itulah yang akan membuat kita menjadi orang yang dipercayai dan dihormati serta menjadi teladan sebagai anak Tuhan dimanapun berada.”

Jumat, 24 April 2020

“Nilai Plus Dalam AnugerahNya” (Rom. 6:1-23)


 “Nilai Plus Dalam AnugerahNya”

(Rom. 6:1-23)





Pada jaman Yunani, yakni masyarakat Perjanjian Baru, dalam lingkungan budaya yang sekuler dimana Paulus melayani, nilai plus atau nilai tambah  menjadi ukuran nilai yang terbaik atau harga diri bagi masyarakat. Oleh sebab itu masyarakat Yunani selalu berusaha untuk menjadi yang lebih dan lebih baik, lebih berhikmat, dan lebih rasio dari pada sesamanya. Perlombaan dalam Olympiade yang dimulai pada jaman ini adalah  suatu lambang dimana orang Yunani mengejar nilai tambah atau nilai plus. Sebenarnya budaya seperti ini juga dimiliki oleh orang Yahudi, namun mereka mengejar nilai plus itu bukan dari Sumber Daya Manusia seperti orang Yunani, tapi dari Sumber Daya Iman dari Hukum Taurat. Mereka berusaha hidup menurut hukum Taurat, dan menganggap diri memiliki “nilai plus” yakni lebih suci.  Mereka membedakan diri mereka dari orang Yunani yang dianggap sebagai orang yang tidak mengenal Tuhan.

Dalam Roma 5:20, Paulus menggunakan istilah “nilai plus ini” , ia mengatakan,
“Tetapi Hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”.

Kata “tambah” atau bertambah-tambah, digunakan Paulus untuk menunjukkan bahwa nilai plus itu berasal dari kasih karunia, dan bukan dari hukum Taurat.  Paulus menyatakan bahwa hukum Taurat itu diberikan bukan supaya orang Yahudi itu menjadi lebih rohani, tapi supaya dosa itu lebih dinyatakan dan dibuka.  Apabila dosa itu dinyatakan, maka kasih karunia Allah itu juga lebih dinyatakan lagi. Karena dosa manusia maka kasih karunia itu dilimpahkan melalui Yesus Kristus. Artinya kasih karunia dalam Kristus itu jauh lebih berkuasa dari dosa dan kasih karunia membebaskan manusia dari dosa-dosanya.  Jadi nilai anugerah dalam Kristus jauh lebih tinggi nilainya dari nilai tambah dalam kehidupan dosa. Hukum Taurat sendiri tidak memiliki kuasa untuk membebaskan orang berdosa dari dosanya, tapi menyatakan dosa bagi orang banyak. Tapi bagi orang Yahudi, hukum Taurat itu digunakan untuk nilai plus bagi dirinya agar menghakimi orang yang berdosa.

Kalau kita melihat dalam beberapa abad ini, orang-orang berusaha mengejar nilai plus. Mulai dari abad pencerahan, orang mengejar nilai plus melalui ilmu pengetahuan, inilah awalnya jaman moderen, kemudian memasuki abad ke 20, orang mengejar nilai plus dari membuat senjata, siapa yang lebih kuat ia menang, kemudian mengakhiri abad ke 20, orang mengejar nilai plus dari ekonomi, dan sekarang orang mengejar nilai plus dari meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk menjadi yang terbaik. Namun dalam mengejar nilai plus ini, mereka masih tetap hidup dalam dosa. Tidaklah heran, dengan kemampuan dan professionalismenya mereka berani mengerjakan apa saja yang bertentangan dengan kebenaran. Jadi Secara lahiriah mereka baik, tetapi secara batiniah mengalami kerusakan.
 
Bagi orang percaya, nilai plus yang sesungguhnya itu kita peroleh bukan dari hal-hal jasmani yang hanya bersifat sementara, apalagi nilai plus dari dosa akan membawa kepada kehancuran, sebab upah dosa itu maut.  Menurut Paulus, nilai plus yang kekal itu kita peroleh dari “kasih Karunia Allah”. Ada tiga nilai plus yang dapat kita peroleh dari kasih karunia Allah yakni:

Yang Pertama, kita hidup dalam kasih karunia. Artinya kita telah dipersatukan dalam Kristus, dalam kematianNya dan kebangkitanNya. Akibatnya kita memiliki kehidupan yang baru. Sesungguhnya tidak ada hidup yang lebih baru dari hidup yang baru sekarang ini. Ini adalah nilai plus yang paling berharga.  Ada banyak nabi dalam Perjanjian Lama ingin mengetahui hidup dalam nilai plus ini, tapi tidak punya cukup umur untuk itu. Duniapun menyaksikan bahwa kita adalah orang yang berbeda dari mereka. Orang percaya memiliki nilai plus karena kematian dan kebangkitan Kristus. Nilai plus ini membuat kita begitu spesial, sehingga kita dapat melayani Allah dalam dunia ini untuk membawa berita penebusan Kristus. Malaikat tidak melakukan ini, karena malaikat tidak pernah mengalami penebusan Kristus. Dalam bahasa Yunani, Paulus menggunakan kata “kainos”, artinya “kualitas dalam kehidupan yang baru”, atau tidak pernah terpakai”, disini ia berbicara soal baru dalam kualitas, bukan dalam penampilan. Inilah kualitas moral dan kualitas imanyang disebut ‘kecantikan yang didalam batin”. Kualitas ini tidak dapat dimiliki oleh siapapun yang belum mengenal Yesus. Apabila kita menilik hiudp kita dalam Kristus, maka kita adalah manusia yang ajaib, yang memiliki kualitas Allah dalam diri kita. Mengapa ada banyak orang Kristen merasa diri rendah, minder, sehingga tidak menjadi berkat. Seringkali orang percaya merasa hidupnya lebih rendah dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Ia hidup mengisolir diri dari masyarakat.
Kainos ini terjadi karena manusia lama kita telah turut disalib, tubuh dosa hilang kuasanya. Oleh sebab itu:  “dosa dan kelemahan itu harus berkurang, dan kasih karunia itu bertambah”, dan bukan sebaliknya. Kalau “dosa bertambah” maka “Kasih Karunia lebih bertambah lagi”, artinya kalau kita jatuh dlam dosa, maka ada kesempatan yang luas bagi kita untuk bertobat dan menerima pengampunan Allah.  Kainos ini terjadi karena kita mempunyai tuan yang baru, yaitu Kristus. Kita hidup dengan Dia dan bagi Dia. Kita memiliki persekutuan yang indah dengan Dia.  Kainos dalam hidup kita harus  menjadi senjata kebenaran. Senjata kebenaran adalah senjata untuk membela kekudusan Allah dalam hidup kita.
Apabila kita memiliki nilai plus dari “kainos”, apakah kita mau hidup dalam dosa?,  saya yakin tidak. 

Yang Kedua, nilai plus dari kasih karunia memberikan status yang baru bagi kita yaitu sebagai hamba kebenaran. Ini merupakan tanggunjawab rohani kita kepada Allah. Kata yang digunakan oleh Paulus adalah “Doulos”, yang berarti hamba.  Dalam budaya Yunani Doulos atau budak ini tidak mempunyai hak apapun, ia hidup hanya untuk tuannya dan mengabdi dengan segala pengorbanan. Ia bagaikan harta benda hidup dari tuannya sehingga tuannya dapat berbuat apasaja yang ia mau. Disini menjadi hamba kebenaran artinya hidup dengan sepenuhnya dalam ketaatan penuh kepada kebenaran Allah tanpa ada keinginan untuk mengubah kebenaran tersebut. Kita menjadi hamba kebenaran oleh karena Kristus telah menjadi hamba Allah dan berkorban di kayu salib untuk membebaskan kita dari hamba dosa. Dengan  demikian  kita harus menjadi orang yang rela dan bersedia untuk memperhambakan diri kita kepada kebenaran yakni kepada kehendak Allah. Pada suatu hari, ada seorang budak perempuan yang cantik dibawa oleh tuannya untuk dilelang di pasar budak di salah satu kota di India. Melihat pemudi yang cantik ini, maka datanglah anak-anak muda berduyun-duyun untuk membelinya. Kemudian pengusaha pelelangan ini mulai menawarkan kepada orang banyak yang hadir disitu. Setiap pemuda menawarkan bayaran yang tinggi untuk pemudi yang cantik ini. Mereka saling bersaing dalam membanting harga yang tinggi-tinggi. Sehingga di pasar lelang ini begitu riuh dengan persaingan harga untuk membeli budak yang cantik. Tiba-tiba muncul seorang tua yang peot dan kumak menawarkan harga yang begitu  tinggi  sehingga tidak seorangpun yang  dapat menyainginya lagi. Lalu budak yang cantik harus menjadi budak si bapak tua ini. Namun perempuan ini merasa geli dan tidak  rela  mengikutinya. Kemudian bapak tua ini datang  kepada perempuan ini, lalu ia mengatakan, “anakku, janganlah engkau takut, aku telah membelimu dengan harga yang tinggi supaya engkau dapat hidup dentgan bebas, engkau tidak usah mengikuti aku dan menjadi budakku. Lalu bapak  tua ini merobek dokumen hak memiliki budak di tangannya dan  membiarkan perempuan ini pergi dengan bebas. Melihat apa yang dilakukan oleh bapak tua ini, perempuan ini menangis dan terharu, lalu perempuan  ini mengatakan, pak, biarkanlah aku mengikut bapak dan aku  mau melayani bapak sebagai bapaku dan bukan sebagai tuan, karena bapak telah  membebaskan aku dari perbudakan.
Pengorbanan Kristus di salib dan menebus kita dari perbuadakan dosa seharusnya membawa kita untuk menjadi hamba-hambaNya yang mulia. Ia tidak memperbudak kita, tetapi Ia mau supaya kita hidup taat kepada kebenaran.
Kita harus mengerti bahwa kehidupan kita dalam Kristus merupakan suatu kasih karunia yang besar yang membuat kita memiliki nilai hidup yang begitu berharga. Nilai hidup yang berharga atau nilai plus ini bukanlah kita peroleh dari nilai-nilai materi yang bersifat  sementar. Nilai plus dalam Kristus mengandung nilai kekekalan yang harus kita kejar. Kita harus meninggalkan dosa-dosa kita dan hidup dalam kebenaran. Kita harus menjadi memperhambakan diri kita kepada kebenaran dan bukan kepada dosa.

Dalam hidup kita di dunia ini, kita harus mengejar nilai  plus yang ada dalam batin. Kecantikan yang di dalam memiliki nilai yang jauh lebih baik dari kecantikan yang di luar. Tapi kita dapat mengimbangi ini, yakni mengejar nilai plus untuk hal-hal jasmani dalam karier kita, dan juga mengejar nilai-nilai batin dalam kehidupan iman kita mengiringi Tuhan. Jadikanlah kehidupan iman kita menjadi senjata-senjata kebenaran untuk mempertahankan  nilai plus yang telah dianugerahkan kepada kita melalui pengorbanan Kristus di  kayu salib.

Tidak ada hidup yang lebih indah dari hidup dalam kasih karunia Allah. Hidup ini mengandung nilai plus yang tidak dapat dibeli dengan harta benda manapun. Apabila kita mempertahankannya, maka kita akan bahagia. Permuliakanlah Kristus dengan hidupmu sekarang ini. Pertahankanlah kebenaran Kristus dalam hidupmu, jadilah seorang hamba yang mengabdi kepada tuannya yang telah berkorban untuk diri anda.


Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

  Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas Ayat Alkitab:   Ay. 38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm.      11:33...