Minggu, 07 Mei 2023

Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

 

Pelajaran 4

Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

Ayat Alkitab:  Ay. 38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm.    11:33-36; 1Kor. 2:6-16

 

Karl Barth: ”Saya mengetahui bahwa Tuhan Yesus mengasihi saya sebab Alkitab menyatakannya kepada saya.”

John Calvin: ”Allah berbicara kepada kita dengan menggunakan ’bahasa bayi’ seperti seorang ibu yang sedang berbicara kepada bayinya.”

à Tidak ada seorangpun yang mempunyai kemampuan untuk mengerti Allah secara tuntas, seperti ilustrasi seorang anak kecil yang hendak memindahkan seluruh air laut ke dalam sebuah botol. Akar masalah: kita adalah manusia yang terbatas, sedangkah Allah adalah tidak terbatas.

Namun ini tidak berarti manusia yang terbatas sama sekali tidak dapat mengetahui apa2 tentang Allah. Manusia dapat mengetahui tentang Allah, tetapi hanya sebagian dan terbatas, tidak bisa secara tuntas atau secara keseluruhan. Kita dapat mengetahui tentang Allah sejauh Allah menyatakan diri-Nya kepada kita. Akan selalu ada hal2 tentang Allah yang berada di luar jangkauan pemikiran kita (lih. Ul. 29:29).




1.      Ada pengertian yang sangat mendalam di dalam kebenaran Kristen yang paling sederhana sekalipun.

2.      Sedalam apa pun pengetahuan teologi kita, kita akan selalu berhadapan dengan sifat dan karakter Allah yang tetap akan menjadi sesuatu yang misteri bagi kita.

3.      Tidak ada seorang pun yang dapat memiliki pengetahuan yang tuntas tentang Allah.

4.      Doktrin ketidakmungkinan manusia mengenal Allah secara tuntas, tidak berarti bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa2 tentang Allah. Doktrin itu berarti bahwa pengetahuan kita terbatas dan terikat pada kemanusiaan kita.

 

 

Pelajaran 5

Allah Tritunggal

Ayat Alkitab: Ul. 6:4; Mat. 3:16-17; 28:19; 2Kor. 13:14; 1Ptr. 1:2

 

Doktrin Allah Tritungal merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita, bahkan kadang2 dianggap tidak masuk akal.

Tritunggal menjelaskan bahwa satu Allah memiliki tiga Pribadi. Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu ada tiga Allah. Kata Tritunggal/Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya. Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga pribadi. Formula ini memang merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam tiga Pribadi.

Istilah Trinitas sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Di satu sisi, Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ul. 6:4). Di sisi lain, Alkitab dengan tegas menyatakan keilahian tiga Pribadi dari Allah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Gereja menolak ajaran2 sesat (bidat) seperti:

- Modalisme à ajaran yang menyangkali perbedaan2 Pribadi2 yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengekspresikan diri-Nya.

- Triteisme à ada tiga keberadaan yang menjadi Allah (ada tiga Allah).

Istilah Pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam substansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain. Setiap pribadi berada ”di bawah” esensi Allah yang murni.

Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.

Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang bapa, seorang anak, dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah. Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya, doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia adalah tiga.

 

1.      Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga Pribadi.

2.      Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga Pribadi.

3.      Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan Keilhaian dari Bapa, anak, dan Roh Kudus.

4.      Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan roh Kudus.

 

Pelajaran 2 Wahyu Umum (WU)

 

Pelajaran 2

Wahyu Umum (WU)

Ayat Alkitab: Mzm. 19:1-14; Kis. 14:8-18; 17:16-34; Rm. 1:18-23; 2:14-15

 

Ada dua macam WU, yaitu:

1.      WU yang dikomunikasikan melalui pengantara (tidak langsung)

Alkitab menyatakan bahwa seluruh bumi penuh kemuliaan Allah. Pada waktu langit menyatakan Allah, penyataan itu datang melalui perantara atau alat, dimana melaluinya Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Dalam pengertian ini, maka seluruh alam semesta merupakan perantara dari Wahyu ilahi. Ciptaan menyaksikan Penciptanya. Namun sayangnya, kita seringkali mengabaikan kemuliaan yang ada di sekeliling kita dan tidak dapat lagi melihat keindahan dan kebesaran yang Allah sediakan di dalam keajaiban ciptaan-Nya. Kita telah terhilang. Sering kali kita buta dan tuli terhadap Allah dan tidak mengerti bahasa dari Wahyu Umum. Alam bukan hal yang bersifat ilahi, tetapi kemuliaan Allah memenuhi alam dan kemuliaan Allah dinyatakan di dalam dan melalui alam.



 

 

2.      WU yang dikomunikasikan secara langsung.

Allah juga menyatakan diri-Nya secara langsung kepada pikiran manusia. Rasul Paulus berbicara mengenai hukum Allah yang ditulis di hati kita (Rm. 2:12-16). John Calvin menyatakan bahwa Allah menanamkan semacam kesadaran ilahi pada setiap pikiran manusia. Umat manusia pada dasarnya adalah makhluk religius. Karakter religius ini dapat saja berbentuk penyembahan berhala. Penyembahan berhala merupakan suatu bukti akan adanya pengetahuan tentang Allah di dalam diri manusia yang dapat tercemar tetapi tidak dapat dihilangkan. Jauh di dalam jiwa kita, kita mengetahui bahwa Allah ada, dan bahwa Ia telah memberikan hukum-Nya kepada kita.

 

 1.      Kemuliaan Allah dapat dilihat dengan jelas disekeliling kita. Hal itu dinyatakan melalui ciptaan Allah.

2.      Umat Allah secara alamiah bersifat religius.

3.      Allah menanamkan dalam diri seluruh umat manusia pengetahuan dasar dari diri-Nya sendiri.

 


Wahyu Khusus

Ayat Alkitab: Mzm 119; Yoh. 17:17; 1Tes. 2:13; 2Tim. 3:15-17; 2Ptr. 1:20-21

 

Wahyu Khusus terdiri dari dua, yakni:

1.      Inkarnasi Yesus Kristus (akan dibahas tersendiri)

2.      Alkitab sebagai Firman Allah tertulis

Alkitab merupakan vos Dei (= suara Allah) atau verbum Desi (= Firman Allah), ini tidak berarti tangan Allah sendiri yang menulis Alkitab atau Alkitab jatuh langsung dari surga. Alkitab sendiri menyatakan ada banyak penulis manusia yng menulis Alkitab, dengan gaya bahasa masing2, perbendaharaan bahasa sendiri, penekanan sendiri, perspektif sendiri dsb. Alkitab disebut sebagai Firman Allah oleh karena pengakuan dari Alkitab yang menyatakan bahwa penulis tidak sekedar menyatakan pemikiran mereka. Perkataan mereka diinspirasikan oleh Allah (lih. 2Tim. 3:16). Kata inspirasi diterjemahkan dari kata Yunani à dinafaskan oleh Allah à Allah berbicara melalui Alkitab. Meskipun Firman Tuhan datang kepada kita melalui penulisan tangan manusia, tetapi sumber utamanya adalah Allah. Kata inspirasi juga berkaitan dengan proses, dimana Roh Kudus membimbing penulisan Firman Tuhan. Roh Kudus membimbing para penulis sehingga kata-kata mereka merupakan Firman Allah.

Orang Kristen mengakui infabilitas dan ineransi dari Alkitab, karena Allah merupakan penulis utama dari Alkitab dan oleh karena itu, Allah tidak mungkin menginspirasikan hal yang salah. Firman-Nya adalah benar dan dapat dipercaya.

Ini tidak berarti bahwa terjemahan Alkitab yang kita miliki sekarang ini tanpa kesalahan, tetapi yang dimaksudkan adalah manuskrip yang asli secara mutlak adalah benar.

 

Alkitab terdiri dari 66 kitab, yang terbagi menjadi Perjanjian Lama (39 kitab) dan Perjanjian Baru (27 kitab). Ke-66 kitab ini disebut Kanon (dari bahasa Yunani; = tongkat pengukur, standar, atau norma). Ini berarti, Alkitab secara historik telah menjadi hukum yang berotoritas bagi iman dan perilaku di dalam gereja. Gereja Protestan tidak mengakui kitab-kitab Apokrifa untuk dimasukkan dalam Kanon. Kitab Apokrifa adalah kitab yang ditulis setelah PL selesai semua dan sebelum PB dimulai. Kriteria2 kitab yang dapat dimasukkan ke dalam kanon adalah sebagai berikut:

@ Harus memiliki otoritas para rasul (ditulis oleh para rasul)

@ Harus diterima sebagai kitab yang berotoritas oleh gereja mula2

@ Harus harmonis dengan kitab-kitab yang tidak diragukan sama sekali (sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul)

Tujuan pengkanonisasi ini adalah untuk melawan ajaran2 sesat yang semakin berkembang pada waktu itu dan sampai sekarang.

 

1.      Inspirasi merupakan proses dimana Allah menafaskan Firman-Nya.

2.      Allah merupakan sumber utama dari Alkitab.

3.      Allah merupakan pembimbing utama dari Alkitab.

4.      Hanya manuskrip asli dari Alkitab yang tanpa salah.

5.      Gereja tidak menciptakan kanon, tetapi hanya mengenali buku2 yang memiliki tanda kanonisitas, oleh karena itu kitab2 ini memiliki otoritas di kalangan gereja.

 

Jumat, 13 Januari 2023

RENUNGAN “ Restorasi Allah untuk Memahami Kehendak-Nya" Roma 12:2

 

Salah satu video Favorit penulis di YouTube adalah proses restorasi. Di video tersebut ditampilkan barang-barang lama yang sudah berkarat dan tidak layak pakai (seperti Botol bekas, Barang elektronik, Plastik, gunting, hingga kendaraan bermotor) yang kemudian di restorasi, dikembalikan seperti desain awalnya dengan fungsi yang sesuai dengan tujuan mula-mula.  Restorasi bukanlah pekerjaan yang mudah, dibutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketepatan untuk dapat menghasilkan yang baik dan berguna.

 

Allah melakukan proses restorasi kepada manusia yang sudah rusak akibat dosa, melalui karya Kristus di kayu salib (Rm 5:8).  Manusia akhirnya dipulihkan untuk menjalankan tujuan-Nya yang semula.  Oleh karena itu Rasul Paulus mengingatkan kepada orang-orang yang sudah di “restorasi” agar tidak serupa dengan dunia, melainkan berubah oleh pembaruan budi (ay. 2). Awalnya pikiran/budi manusia berpusat pada diri sendiri, dikembalikan ke desain awal yaitu berpusat pada Tuhan sang pencipta.

 

Melalui karya Allah di kayu salib, kita dimampukan untuk memahami kehendak Allah: yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.  Inilah tujuan utama dan asali dari manusia. (CR)

 

 

Pertanyaan Refleksi:

Jika Firman Tuhan meminta anda untuk tidak serupa dunia, apakah itu artinya semua aspek di dunia ini adalah buruk?

Apa yang anda pahami tentang berpusat pada diri sendiri dan berpusat pada Allah?

Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

  Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas Ayat Alkitab:   Ay. 38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm.      11:33...