Pelajaran 4
Allah yang Tidak Dapat
Dimengerti Secara Tuntas
Ayat Alkitab: Ay.
38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm. 11:33-36; 1Kor. 2:6-16
Karl Barth: ”Saya mengetahui bahwa Tuhan
Yesus mengasihi saya sebab Alkitab menyatakannya kepada saya.”
John Calvin: ”Allah berbicara kepada kita
dengan menggunakan ’bahasa bayi’ seperti seorang ibu yang sedang berbicara
kepada bayinya.”
à Tidak ada seorangpun yang mempunyai kemampuan
untuk mengerti Allah secara tuntas, seperti ilustrasi seorang anak kecil yang
hendak memindahkan seluruh air laut ke dalam sebuah botol. Akar masalah: kita
adalah manusia yang terbatas, sedangkah Allah adalah tidak terbatas.
Namun ini tidak
berarti manusia yang terbatas sama sekali tidak dapat mengetahui apa2 tentang
Allah. Manusia dapat mengetahui tentang Allah, tetapi hanya sebagian dan
terbatas, tidak bisa secara tuntas atau secara keseluruhan. Kita dapat
mengetahui tentang Allah sejauh Allah menyatakan diri-Nya kepada kita. Akan
selalu ada hal2 tentang Allah yang berada di luar jangkauan pemikiran kita
(lih. Ul. 29:29).
1.
Ada
pengertian yang sangat mendalam di dalam kebenaran Kristen yang paling
sederhana sekalipun.
2.
Sedalam
apa pun pengetahuan teologi kita, kita akan selalu berhadapan dengan sifat dan
karakter Allah yang tetap akan menjadi sesuatu yang misteri bagi kita.
3.
Tidak
ada seorang pun yang dapat memiliki pengetahuan yang tuntas tentang Allah.
4.
Doktrin
ketidakmungkinan manusia mengenal Allah secara tuntas, tidak berarti bahwa
manusia tidak dapat mengetahui apa2 tentang Allah. Doktrin itu berarti bahwa pengetahuan kita
terbatas dan terikat pada kemanusiaan kita.
Pelajaran 5
Allah Tritunggal
Ayat Alkitab: Ul. 6:4; Mat. 3:16-17; 28:19; 2Kor. 13:14; 1Ptr. 1:2
Doktrin Allah
Tritungal merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita, bahkan kadang2
dianggap tidak masuk akal.
Tritunggal
menjelaskan bahwa satu Allah memiliki tiga Pribadi. Tritunggal bukan berarti
triteisme, yaitu ada tiga Allah. Kata Tritunggal/Trinitas dipergunakan sebagai
usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun
dalam hal keragaman-Nya. Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam
sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga pribadi. Formula ini memang
merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan
dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan
keragaman-Nya diekspresikan dalam tiga Pribadi.
Istilah Trinitas
sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi konsepnya dengan jelas diajarkan
oleh Alkitab. Di satu sisi,
Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ul. 6:4). Di sisi lain, Alkitab
dengan tegas menyatakan keilahian tiga Pribadi dari Allah: Bapa, Anak, dan Roh
Kudus.
Gereja menolak
ajaran2 sesat (bidat) seperti:
- Modalisme à ajaran yang menyangkali perbedaan2
Pribadi2 yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan
Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengekspresikan diri-Nya.
- Triteisme à ada tiga keberadaan yang menjadi Allah
(ada tiga Allah).
Istilah Pribadi
sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di
dalam substansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan
yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti
suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain. Setiap pribadi berada ”di
bawah” esensi Allah yang murni.
Setiap Pribadi
di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan merupakan
pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun di dalam pelaksanaannya
ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa
memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus
melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada
orang-orang percaya.
Doktrin Tritunggal
tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran dari Allah. Analogi manusia yang
menjelaskan seseorang yang adalah seorang bapa, seorang anak, dan seorang suami
tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah. Doktrin Tritunggal tidak secara
lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya,
doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini
menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut
kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian
Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia adalah tiga.
1.
Doktrin
Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga Pribadi.
2.
Doktrin
Tritunggal bukan merupakan suatu kontradksi: Allah memiliki satu esensi dan
tiga Pribadi.
3.
Alkitab
meneguhkan baik keesaan Allah dan Keilhaian dari Bapa, anak, dan Roh Kudus.
4.
Ketiga
pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa,
Anak dan roh Kudus.


