Complete Sovereignty of God
Ayub 2:1-13
Pernahkah anda berfikir kenapa
Allah harus membiarkan covid—19 terus berkembang dan kematian dalam jumlah
besar. Padahal, Allah mampu menghentikan jika Allah mau. Tapi kenapa sepertinya
Allah membiarkannya?.
Pada umumnya, setiap orang ingin
mempertahankan hidupnya. Usaha untuk mempertahankan hidup dapat kita jumpai
berupa memeriksakan kesehatan secara rutin, membangun sistem keamanan diri,
membayar nilai asuransi, bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup,
mengatur finansial dan menabung secara ketat, supaya mempertahankan nyawanya. Dalam Kitab Ayub, Iblis pernah berkatakepada Tuhan:
“kulit ganti kulit- orang akan memberikan apa yang dipunyainya ganti nyawanya”.
(Ayub 2:4).
Kalimat yang dilontarkan iblis kepada
Allah ini merupakan bagian dari percakapan iblis dan Allah bagian kedua setelah
percakapan iblis dan Allah dibagian pertama dalam (Ayub 1:6-12). Topik yang
dibicarakan iblis dan Allah dibagian yang kedua ini masih tentang Ayub. Namun
bedanya, dalam percakapan yang pertama membahas tentang penderitaan Ayub akibat
kehilangan segala harta milik dan keluarganya. Bagian yang kedua ini langsung
berkaitan dengan keadaan Ayub sendiri. Setelah Ayub kehilangan harta dan keluarganya,
dalam kemiskinannya itu, Ayub hanya tinggal memiliki kesehatan dan kesalehannya
saja. Dalam percakapan kedua ini, iblis menginginkan kesehatannya diambil dari hidup Ayub. Dan Tuhan
mngizinkannya.
Ayub mengalami keadaan yang begitu parah
dibawah “kekuasaan” iblis. Tubuhnya penuh borok yang membusuk dari kepala
sampai ke ujung kakinya. Begitu sakit dan mungkin sangat gatal, Alkitab
mencatat, tubuhnya sendiri digaruk dengan pecahan beling yang tajam sehingga
memperparah luka-lukanya.(ay.8) Keadaan itu tidak tercatat berapa lama
berlangsung, tetapi secara medis, pastilah lama untuk luka membusuk disekujur
tubuh.
Dua respon Ayub menjadi pelajaran penting
bagi kita ketika menghadapi penderitaan.
- Tekun
dalam kesalehannya (Ayat 3,9)
Ayub mengalami penderitaan dalam
ketidakbersalahannya. Borok busuk yang menimpa Ayub adalah prakarsa iblis yang
diizinkan Allah menimpa dirinya. Tetapi Ayub tetap tekun dalam kesalehannya.
Ayub merupakan teladan ketabahan yang sabar ditengah penderitaan yang bukan merupakan
kesalahannya. Ayub tekun dalam kesalehannya. Kata tekun “strengthen” memiliki
arti memperkuat dan mengeras, berani, tegas, menang. Dalam kesalehan: integrity
& completeness berarti integritas yang lengkap. Ayub memperkuat dan
mengeraskan tekadnya untuk tidak berdosa. Ketegasannya untuk tidak mengkhianati
Allahnya juga tercermin dalam integritas hidupnya yang lengkap, artinya
kesalehannya dihadapan Tuhan tidak ada yang berkurang, meskipun pun penderitaan
yang pertama belum selesai dengan dampaknya, masih ditambah dengan pencobaan
kedua sekarang ini. Ujian manusia adalah penderitaan, maknanya besar, karena
dalam pergulatan penderitaan nama Tuhanlah yang dipertaruhkan dalam sepanjang
zaman, apa itu? Ketika pertentangan iblis dan Allah terjadi. Tetapi Ayub membuktikan
sebagai teladan orang benar yang menderita. Yang membuktikan Allah selalu
menang dalam pertentangan itu. Ayub tidak kehilangan sesuatu yang terpenting
dalam hidupnya yakni iman. Dia menang dan tetap tekun dalam kesalehannya tanpa
dikasih kendor.
Bukankah ini seperti tipologi Kristus bagi kita? Kristus menderita bukan
karena kesalahanNya, tetapi bagi kesalahan kita. Konsekuensinya, Kristus
menderita disalibkan bagi dosa kita. Kristus taat sampai selesai, lengkap dan
tidak ada yang dikurangi.
Covid-19, Penderitaan yang
berasal dari luar diri kita. Yang kita tahu siapa yang memulainya. Namun,
dampak besar kita rasakan. Mulai dari ibadah mandiri, jaga jarak, perubahan
salaman, dan yang paling terpenting tetap di rumah (Stay at home). Teramat sulit
lagi dampak dari Covid-19 yaitu kebutuhan pokok yang harus terpenuhi. Akan
tetapi, haruslah kita memaknai itu dengan tetap tekun dan saleh dihadapan Tuhan
tanpa ada keinginan untuk menguranginya. Kemurnian iman kita ditunjukkan dengan
tetap hidup benar ditengah penderitaan.
2. Meyakini segala sesuatu
berasal dari Allah ( Ayat 10)
Terang sekali Ayub disini dilanda
penyakit yang mengerikan. Tetapi istrinya juga memberikan saran yang jauh dari
dugaannya. “kutukilah Allahmu dan matilah”. (ay.9)Sebuah saran yang
mengharuskan dirinya tidak hidup saleh dihadapan Allah. Pernahkah saudara
mengalaminya? Namun jawaban Ayub mencerminkan kekuatan iman yang tegar. “engkau
berbicara seperti perempuan gila, apakah engkau mau menerima yang baik dari
Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? (ay.10) Pernyataan Ayub di sini
diungkapkan sebelum keadaannya dipulihkan. Hal ini berarti bahwa apa yang dia
maksudkan dengan “menerima yang baik” tidak mencakup pemulihan keadaannya. Ayub
pada kenyataannya masih sakit parah, kehilangan harta dan keluarga serta
mendapat perlakuan kurang baik dari sang istri. Apa yang terlihat sebagai
musibah (perampokan) tetaplah rencana Allah. Apa yang dipandang sebagai
kebetulan dan alamiah (bencana alam) adalah bagian dari rencana Allah. Apa yang
tampak begitu buruk (penyakit kulit) merupakan rencana-Nya.
Ayub mengakui bahwa dibalik segala
sesuatu, termasuk kesengsaraan yang menimpa dia, ada rencana Allah. Rencana in
bersifat pasti. Dia sanggup menuntaskan rencana tersebut. Bukan hanya itu,
rencana ini juga bersifat pasti karena tidak bisa digagalkan oleh siapapun.
Allah menunjukkan kedaulatanNya yang mutlak atas segala sesuatu. Alam semesta
dipenuhi dengan begitu banyak petunjuk tentang kekuasaanNya. Dia memutuskan,
melakukan, dan mengatur segala sesuatu. Jika Ayub memandang segala sesuatu yang
menimpa dia sebagai rencana Allah, maka semua peristiwa di pasal 1-2 juga
termasuk didalamnya. Ini berarti bahwa tindakan iblis tidak berada di luar
rencanaNya (1:6-12;2:1-6). Ketika Allah membiarkan iblis melakukan keinginannya
yang jahat, pembiaran itu merupakan bagian dari rencanNya. Ini bukan sekedar
pembiaran pasif. Ini pembiaran yang berdaulat. Tuhan mengizinkannya. Walaupun
semua adalah rencana Allah, bukan berarti Allah secara aktif dan langsung
terlibat di dalamnya. Iblislah yang menjadi actor intelktual. Dia menggunakan
orang-orang jahat dan alam untuk menyengsarakan Ayub. Bagaimanapun, hal itu
tetap tidak meniadakan kedaulatan Allah.
Poin ini sangat penting untuk ditekankan,
karena banyak orang Kristen menganggap jawaban atas semua persoalan adalah
perubahan keadaan. Sakit disembuhkan, kekurangan dicukupi, berada dalam bahaya
dilepaskan, dan sebagainya. Tidak demikian dengan Ayub. Dia sudah menang,
bahkan sebelum ada perubahan keadaan. Solusi sejati seringkali bukanlah
perubahan keadaan, melainkan perubahan diri kita sendiri. Pengenalan kita
terhadap Allah diperdalam. Persandaran kita kepadaNya dikokohkan. Karakter kita
semakin serupa dengan Allah. Itulah yang terjadi dalam kasus Ayub. Kita menjadi
orang yang lebih siap untuk menerima segala situasi, baik ataupun yang buruk.
Dan kita tetap meyakini bahwa segala sesuatu ada dibawah kedaulatan Allah. Cara
pandang kita terhadap Allah yang berkuasa atas segala sesuatu tetap menjadi
dasar atas cara pandang kita sebagai manusia yang lemah dan terbatas. Inilah
pelajaran berharga bagi kita hari ini.
KEDAULATAN ALLAH YANG DIMILIKI ATAS SETIAP KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
ITU BERSIFAT PERMANEN. TIDAK BISA DITUKAR DENGAN APAPUN ITU. HIDUP ATAU MATI PUN
HANYA ADA PADA KEDAULATAN ALLAH SANG PEMILIK HIDUP. KEADAAN MUNGKIN MENGHIMPIT
IMAN, KASIH DAN PENGHARAPAN KITA. NAMUN, AYUB MAMPU MEMBUKTIKAN ITU SEMUA. YANG
TERPENTING, TEKUN DALAM KESALEHAN DAN MENYAKINI SEGALA SESUATU DARI ALLAH.