Minggu, 07 Mei 2023

Pelajaran 2 Wahyu Umum (WU)

 

Pelajaran 2

Wahyu Umum (WU)

Ayat Alkitab: Mzm. 19:1-14; Kis. 14:8-18; 17:16-34; Rm. 1:18-23; 2:14-15

 

Ada dua macam WU, yaitu:

1.      WU yang dikomunikasikan melalui pengantara (tidak langsung)

Alkitab menyatakan bahwa seluruh bumi penuh kemuliaan Allah. Pada waktu langit menyatakan Allah, penyataan itu datang melalui perantara atau alat, dimana melaluinya Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Dalam pengertian ini, maka seluruh alam semesta merupakan perantara dari Wahyu ilahi. Ciptaan menyaksikan Penciptanya. Namun sayangnya, kita seringkali mengabaikan kemuliaan yang ada di sekeliling kita dan tidak dapat lagi melihat keindahan dan kebesaran yang Allah sediakan di dalam keajaiban ciptaan-Nya. Kita telah terhilang. Sering kali kita buta dan tuli terhadap Allah dan tidak mengerti bahasa dari Wahyu Umum. Alam bukan hal yang bersifat ilahi, tetapi kemuliaan Allah memenuhi alam dan kemuliaan Allah dinyatakan di dalam dan melalui alam.



 

 

2.      WU yang dikomunikasikan secara langsung.

Allah juga menyatakan diri-Nya secara langsung kepada pikiran manusia. Rasul Paulus berbicara mengenai hukum Allah yang ditulis di hati kita (Rm. 2:12-16). John Calvin menyatakan bahwa Allah menanamkan semacam kesadaran ilahi pada setiap pikiran manusia. Umat manusia pada dasarnya adalah makhluk religius. Karakter religius ini dapat saja berbentuk penyembahan berhala. Penyembahan berhala merupakan suatu bukti akan adanya pengetahuan tentang Allah di dalam diri manusia yang dapat tercemar tetapi tidak dapat dihilangkan. Jauh di dalam jiwa kita, kita mengetahui bahwa Allah ada, dan bahwa Ia telah memberikan hukum-Nya kepada kita.

 

 1.      Kemuliaan Allah dapat dilihat dengan jelas disekeliling kita. Hal itu dinyatakan melalui ciptaan Allah.

2.      Umat Allah secara alamiah bersifat religius.

3.      Allah menanamkan dalam diri seluruh umat manusia pengetahuan dasar dari diri-Nya sendiri.

 


Wahyu Khusus

Ayat Alkitab: Mzm 119; Yoh. 17:17; 1Tes. 2:13; 2Tim. 3:15-17; 2Ptr. 1:20-21

 

Wahyu Khusus terdiri dari dua, yakni:

1.      Inkarnasi Yesus Kristus (akan dibahas tersendiri)

2.      Alkitab sebagai Firman Allah tertulis

Alkitab merupakan vos Dei (= suara Allah) atau verbum Desi (= Firman Allah), ini tidak berarti tangan Allah sendiri yang menulis Alkitab atau Alkitab jatuh langsung dari surga. Alkitab sendiri menyatakan ada banyak penulis manusia yng menulis Alkitab, dengan gaya bahasa masing2, perbendaharaan bahasa sendiri, penekanan sendiri, perspektif sendiri dsb. Alkitab disebut sebagai Firman Allah oleh karena pengakuan dari Alkitab yang menyatakan bahwa penulis tidak sekedar menyatakan pemikiran mereka. Perkataan mereka diinspirasikan oleh Allah (lih. 2Tim. 3:16). Kata inspirasi diterjemahkan dari kata Yunani à dinafaskan oleh Allah à Allah berbicara melalui Alkitab. Meskipun Firman Tuhan datang kepada kita melalui penulisan tangan manusia, tetapi sumber utamanya adalah Allah. Kata inspirasi juga berkaitan dengan proses, dimana Roh Kudus membimbing penulisan Firman Tuhan. Roh Kudus membimbing para penulis sehingga kata-kata mereka merupakan Firman Allah.

Orang Kristen mengakui infabilitas dan ineransi dari Alkitab, karena Allah merupakan penulis utama dari Alkitab dan oleh karena itu, Allah tidak mungkin menginspirasikan hal yang salah. Firman-Nya adalah benar dan dapat dipercaya.

Ini tidak berarti bahwa terjemahan Alkitab yang kita miliki sekarang ini tanpa kesalahan, tetapi yang dimaksudkan adalah manuskrip yang asli secara mutlak adalah benar.

 

Alkitab terdiri dari 66 kitab, yang terbagi menjadi Perjanjian Lama (39 kitab) dan Perjanjian Baru (27 kitab). Ke-66 kitab ini disebut Kanon (dari bahasa Yunani; = tongkat pengukur, standar, atau norma). Ini berarti, Alkitab secara historik telah menjadi hukum yang berotoritas bagi iman dan perilaku di dalam gereja. Gereja Protestan tidak mengakui kitab-kitab Apokrifa untuk dimasukkan dalam Kanon. Kitab Apokrifa adalah kitab yang ditulis setelah PL selesai semua dan sebelum PB dimulai. Kriteria2 kitab yang dapat dimasukkan ke dalam kanon adalah sebagai berikut:

@ Harus memiliki otoritas para rasul (ditulis oleh para rasul)

@ Harus diterima sebagai kitab yang berotoritas oleh gereja mula2

@ Harus harmonis dengan kitab-kitab yang tidak diragukan sama sekali (sesuai dengan pengajaran Kristus dan para rasul)

Tujuan pengkanonisasi ini adalah untuk melawan ajaran2 sesat yang semakin berkembang pada waktu itu dan sampai sekarang.

 

1.      Inspirasi merupakan proses dimana Allah menafaskan Firman-Nya.

2.      Allah merupakan sumber utama dari Alkitab.

3.      Allah merupakan pembimbing utama dari Alkitab.

4.      Hanya manuskrip asli dari Alkitab yang tanpa salah.

5.      Gereja tidak menciptakan kanon, tetapi hanya mengenali buku2 yang memiliki tanda kanonisitas, oleh karena itu kitab2 ini memiliki otoritas di kalangan gereja.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas

  Pelajaran 4 Allah yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas Ayat Alkitab:   Ay. 38:1-41:34; Mzm. 139:1-18; Yes. 55:8-9; Rm.      11:33...