"Untuk mengetahui
hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima
didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk
memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan
serta kebijaksanaan kepada orang muda. Baiklah orang bijak mendengar dan
menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.
Untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. Takut
akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan
didikan"
![]() |
| @andespanjaitan |
Perkembangan Dunia sebagaimana
arus
globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia. Disertai dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi
industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial
intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan
fenomena disruptive innovation.
Menteri
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir
menjelaskan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi
revolusi industri 4.0 Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi
tinggi. Meski masih di bawah Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi
Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait dengan global competitiveness
index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36,
naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara. Menghadapi tantangan tersebut, Pengajar Remaja Pemuda pun dituntut untuk
berubah mengikuti
perkembangan arus, termasuk dalam menghasilkan Remaja Pemuda canggih yang
berkualitas bagi generasi masa depan.
Remaja Pemuda
atau paling akrab disapa dengan milenial dianggap menjadi kunci peradaban di
masa ini yaitu Revolusi
Industri 4.0 atau masa Perkembangan Industri diera digital.
Generasi mileniallah yang memiliki peluang besar sebagai pelaku utama dalam
menjalankan pengembangan industri di era digital. Mau atau tidak, para
mileniallah yang akan terlibat di dalamnya. Perkembangan teknologi yang sangat cepat ini seharusnya semakin
menyadarkan kita sebagai generasi muda Kristen, bahwa Allah telah
mempersiapakan segala sesuatunya baik untuk kita anak anak-Nya. Jadi sebagai
remaja pemuda Kristen sebagai salah satu pelaku utama harus sadar akan peran
dalam menghadapi Era digital ini.
Perkembangan teknologi dalam
dunia Era Digital juga mengingatkan kita bahwa Allah menujukkan kemurahnnya
bagi kita anak muda di era saat ini dengan segala dampak positif yang kita
peroleh. Jadi seharusnya kita sebagai Remaja pemuda Kristen harus dewasa dan
semakin bijak dalam penggunaan teknologi di Dunia Industri 4.0 dan menjadi pribadi
yang menyuarakan kebenaran Allah, sehingga dapat memberikan dampak transformative
atas berbagai sisi kehidupan remaja pemuda.
Amsal ini mengingatkan akan
pentingnya mendengarkan didikan hikmat, khususnya hikmat dari Tuhan, yang
memberi kebijaksanaan. Seperti permintaan Salomo ketika ia hendak dinobatkan
menjadi raja, "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham
menimbang perkara..." (1 Raj. 3:9). Kata "faham" ini berasal
dari akar kata "mendengar dengan penuh perhatian". Artinya, mendengar
setiap tuntunan dan didikan Tuhan, yang tak pernah menyesatkan. Remaja Pemuda
dalam menghadapi Era Digital saat ini harus ada pengendalian diri. Dalam
mendengar perlu ada kerendahan hati untuk diarahkan dan dibentuk yang akan
menghasilkan Remaja Pemuda yang berkualitas di era digital.
Tujuan Amsal-Amsal didalamnya,
yaitu untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk menerima didikan yang
menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran, dan untuk memeberi
pengetahuan serta kebijaksanaan. di atas semua itu pengetahuan sejati ialah
hikmat yang menghormati dan menaati Tuhan. landasan yang diperlukan oleh hikmat
dinyatakan dengan jelas takut akan Tuhan. Konsep takut kepada Tuhan dalam kitab
Amsal sangat berkaitan dengan pengenalan tentang Allah, berbeda dengan agama
kafir kuno yang diselimuti terhadap dewa mereka tanpa mengenalnya, monotaisme
yahudi pengenalan dan hormat sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. lebih jauh
takut kepada Tuhan bukan hanya masalah teoritis tetapi praktis; dan ini
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yang benar. Jadi baiklah Remaja Pemuda
yang Bijak mendengar dan menambah Ilmu dan baiklah Remaja Pemuda yang
berpengertian memperoleh bahan pertimbangan, Untuk mengerti Amsal dan Ibarat,
perkataan Teka-teki Orang Bijak. Hal ini menekankan supaya kita remaja pemuda
yag bijak menjadi lebih bijak lagi dalam menghadapi era digital ini. Diatas
Dari semua itu Amsal ini menekankan supaya kita berhikmat karena hikmat
melindungi seseorang dari hawa nafsu yang rendah dan akibat-akibatnya, sebagai
mana dalam perkembangan teknologi pasti mempunyai dampak negative bagi perkembangan
remaja pemuda. Di karenakan kita salah mengunakan teknologi yang canggih ini,
apalagi di zaman era digital paling cepat untuk mengetahui informasi dan
mengembangkan ekonomi digital. Sebagaimana remaja pemuda yang salah mengunakan
teknologi akan mengakibatkan tindakan yang bodoh dan kemalasan dan dari
Perzinahan dan dari Godaan duniawi apalagi dalam era digital ini yang akan
merusak generasi. Asal mengatakan Hikmat lebih baik dari pada Kebodohan, karena
Hikmat berasal dari Tuhan dan banyak Gunanya apalagi dalam perkembangan
Tekonologi Industri 4.0.
Kita sebagai Remaja Pemuda
harus memperiapkan agar menjadi Terampil, Prefosional Kompetitif dan produktif
dalam menghadapi Revolusi industri ke empat atau 4.0 yang menandai era baru
dalam digitalisasi industri. Sebagaimana lewat revolusi 4.0 atau Era Digital
ini Indonesia menargetkan masuk dalam 10 ekonomi terbesar dunia tahun 2030, sebagai
Pemuda remaja Kita sebagai Pelaku utama harus Bijak dan berdampak dalam
membangun Bangsa kita walaupun berbagai tantangan muncul mewujudkan Indonesia
4.0 dari membangun infrastruktur hingga pemantapan kompetensi SDM, agar tidak
tersalip arus modernisasi dan menjadi remaja pemuda yang menjadi Berkat.
Soli Deo Gloria.
