Setiap orang butuh dikagumi. Kita
butuh di cintai,butuh dipelihara,butuh dijaga, disembuhkan dan dikasihi.
Selanjutnya kita juga butuh ditemani, diterima, diampuni, didamaikan,
didampingi, dimengerti, ditolong, diakui, disambut dan di hargai. Kita juga
butuh di bimbing, dihibur, diarahkan, di topang, diberi petunjuk dan diberi
kebebasan. Semua itu merupakan kebutuhan dasariah kita; dan Setiap orang pasti memiliki ciri-ciri khusus yang
membuat orang lain mudah untuk mengenalinya, baik itu dalam penampilan maupun
karakteristiknya. Sama halnya dengan pengikut Kristus, yaitu orang Kristen.
Kita juga sebagai seorang pengikut Kristus seharusnya memiliki ciri khas yaitu
hidup dalam “kasih”. Orang bisa mengenal kita sebagai orang Kristen dari kasih
yang kita miliki dan yang kita terapkan. Mengapa kita harus mengasihi, untuk
apa kita harus mengasihi dan siapakah yang harus kita kasihi?
1.
Berkat yang Dapat Kita Peroleh dengan Mengasihi
·
Mendapat
sukacita penuh yang bersumber dari Tuhan (Ay. 11 – 12)
Yesus menjanjikan sukacita bagi yang hidup dalam kasih. Dia
mengungkapkan kata “sukacita”, bukan kata “bahagia”. Kebahagiaan dapat kita
ciptakan dan dapatkan dari dunia ini dengan usaha kita sendiri, namun sukacita
bersumber dari Allah dan merupakan buah dari Roh. Sukacita Tuhan akan ada pada
kita yang hidup dalam kasih sehingga sukacita kita penuh
·
Menjadi
sahabat-Nya (Ayat 13 – 15)
Dalam tradisi Yahudi, sangat gampang membedakan antara hamba dengan
sahabat. Seperti yang sudah kita ketahui, seorang hamba itu adalah orang yang
bisa diperlakukan sesuka hati oleh tuannya. Seorang hamba tidak memiliki hak
apa-apa, bahkan tidak berhak atas nyawanya, dia juga tidak tahu apa yang
diperbuat tuannya dan dia harus mengabdi kepada tuannya. Sementara sahabat
adalah orang yang paling dekat dengan kita dan yang paling mengerti akan
pribadi kita. Bahkan sering seorang seorang sahabat lebih mengerti pribadi kita
dibanding orang tua atau saudara-saudara kita. Seorang sahabat juga mau
berkorban untuk sahabatnya, bukan malah mengorbankan sahabatnya untuk
kepentingannya. Yesus sendiri sebagai sahabat yang baik, tidak hanya
mengajarkan bagaimana gambaran seorang sahabat yang baik, tetapi lebih dulu
menunjukkan dan mempraktekkan bagaimana karakter seorang sahabat yang baik dan
benar. Dia mengorbankan nyawa-Nya untuk kita atas kesalahan dan dosa kita.
Berarti menjadi sahabat yang baik juga harus mau berkorban, memiliki kesetiaan
dan solidaritas yang tinggi terhadap sahabatnya. Seorang sahabat juga
mengetahui apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya, sama seperti Yesus yang
memberitahukan segala sesuatu yang Dia dengarkan dari Bapa-Nya yang di sorga.
·
Dipilih
menjadi sahabat-Nya dan sarana-Nya menunjukkan identitas seorang Kristen (Ay.
16a)
Sering kita berfikir bahwa kitalah yang memilih Yesus menjadi
Juruselamat kita dan menjadi Tuhan kita. Namun sebenarnya, bukan kita yang
memilih Yesus menjadi sahabat kita, tapi Dialah yang memilih kita. Allah yang
memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Allah yang memilih nabi-nabi
menjadi penyambung lidah-Nya. Dia yang memilih para imam dan raja-raja untuk
memimpin bangsa Israel. Yesus yang memilih para murid-Nya sebagai kader-Nya
yang akan meneruskan pengabaran berita sukacita. Dia juga yang memilih kita
untuk diselamatkan, dan Dia juga yang memilih kita menjadi sahabat-Nya.
Pertanyaannya adalah, maukah kita menjadi sahabat Yesus? Menjadi sahabat Yesus
berarti mau melakukan segala apa yang telah Dia lakukan yaitu hidup dalam kasih
tanpa mencari keuntungan pribadi.
·
Dipakai
Tuhan menjadi berkat dan saluran berkat (Ay. 16b)
Untuk bisa menjadi orang yang hidup dalam kasih, kita terlebih dahulu menerima
kasih yang bersumber dari Allah (pasif), artinya Allah yang bekerja. Dan
setelah kita merasakan aliran kasih Tuhan,
maka kita bisa merasakan bagaimana indahnya kasih itu. Akan tetapi
berkat dan kasih karunia yang kita terima itu bukan untuk kita nikmati sendiri.
Tuhan ingin memakai kita menjadi berkat dimanapun kita berada. Artinya,
keberadaan kita menjadi sukacita bagi sesama kita dan berkat yang kita terima
juga harus bisa kita bagikan kepada yang membutuhkan (kita menjadi saluran
berkat Tuhan). Disinilah nyata bahwa kasih itu adalah wujud nyata dari iman
kita tidak hanya konsep ataupun sebatas perkataan.
2.
Mengasihi adalah Perintah Yesus yang Harus Diterapkan
(ay. 17)
Ayat ini kembali Yesus menegaskan keharusan dan kewajiban yang harus
dilakukan oleh pengikut Kristus. Kita diperintahkan untuk mengasihi satu dengan
yang lain. Artinya kita harus saling mengasihi satu dengan yang lain, berarti
mengasihi semua orang. Kita dituntut menjadi pribadi yang aktif dalam
menunjukkan identitas iman kita. Kita tidak diajarkan untuk ‘hanya’ mengasihi
orang yang mengasihi kita, tetapi satu dengan yang lain. Tidak ada batasan
untuk mengasihi. Dalam menerapkan kasih, tidak ada orang kaya, orang miskin,
tua, muda, dsb. Yesus tidak menginginkan kita memilih-milih orang untuk
dikasihi. Yesus sendiri membuktikan bahwa dia mengasihi semua orang, bahkan
orang-orang yang dikucilkan dan direndahkan, orang-orang cacat dan juga
orang-orang yang dianggap sebagai orang berdosa. Jadi Yesus tidak hanya
mengajarkan konsep belaka kepada para murid-Nya, namun Dia mengajarkan apa yang
telah Dia perbuat di tengah-tengah pelayanan-Nya
Ø
Aplikasi
1.
Kita
telah memahami ajaran Yesus yang mengajarkan bagaimana kita harus hidup dalam
kasih sebagai wujud iman kita. Ada tiga hal yang harus tinggal dalam dari
manusia (khususnya pengikut Kristus), yaitu : Iman, Pengharapan dan Kasih. Dan
yang paling besar diantaranya adalah kasih (1 Kor. 13:13).
2.
Mengasihi bukan karena kita dikasihi orang/ sesama
kita, tapi karena Allah lebih dulu mengasihi kita. Sehingga kita mampu
mengasihi siapapun dia, bagaimanapun statusnya, dan yang lebih luar biasa, kita
harus mampu mengasihi meskipun orang lain membenci atau memusuhi kita.
Mengasihi bukan supaya orang yang kita kasihi memuji kita, tetapi agar mereka
memuji Tuhan yang mengajari kita untuk mengasihi. Karena jika kita mengasihi
agar mendapat pujian, maka Paulus mengatakan itu tidak akan ada artinya.
Sekalipun kita mau membagi-bagikan segala sesuatu yang ada pada kita, bahkan
menyerahkan tubuh kita untuk dibakar,
jika kita tidak memiliki kasih yang benar atau supaya dipuji oleh orang lain,
maka sebenarnya semua itu tidak akan ada artinya (bd. 1 Kor. 13:3)
3.
Dengan
demikian sesuai dengan perintah Yesus dalam ayat 7, maka kita diharuskan untuk
saling mengasihi yang satu dengan yang lain. Sikap inilah yang menjadi
penerapan akan kasih kepada Allah. I
Yohanes 4:20 Jikalau seorang berkata:
"Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah
pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak
mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Maka sebagai orang Kristen
kasih kepada Allah dan kepada sesama adalah hukum yang paling utama dalam
ajaran Yesus dan hukum itulah yang harus
kita terapkan dalam kehidupan kita, dalam pelayanan kita, dalam perkerjaan kita
maupun dalam keluarga kita. Sehingga melalui kasih yang nyatalah maka nyata
pula kita sudah tinggal di dalam kasih Allah. Karena orang yang tinggal dalam
kasih yang bersumber dari Allah akan mendapat sukacita yang penuh.
Tuhan
Yesus memberkati.
SOLI
DEO GLORIA

amen
BalasHapus