“Nilai Plus Dalam AnugerahNya”
(Rom. 6:1-23)
Pada
jaman Yunani, yakni masyarakat Perjanjian Baru, dalam lingkungan budaya yang
sekuler dimana Paulus melayani, nilai plus atau nilai tambah menjadi ukuran nilai yang terbaik atau harga
diri bagi masyarakat. Oleh sebab itu masyarakat Yunani selalu berusaha untuk
menjadi yang lebih dan lebih baik, lebih berhikmat, dan lebih rasio dari pada
sesamanya. Perlombaan dalam Olympiade yang dimulai pada jaman ini adalah suatu lambang dimana orang Yunani mengejar
nilai tambah atau nilai plus. Sebenarnya budaya seperti ini juga dimiliki oleh
orang Yahudi, namun mereka mengejar nilai plus itu bukan dari Sumber Daya
Manusia seperti orang Yunani, tapi dari Sumber Daya Iman dari Hukum Taurat.
Mereka berusaha hidup menurut hukum Taurat, dan menganggap diri memiliki “nilai
plus” yakni lebih suci. Mereka
membedakan diri mereka dari orang Yunani yang dianggap sebagai orang yang tidak
mengenal Tuhan.
Dalam Roma 5:20, Paulus menggunakan istilah “nilai plus
ini” , ia mengatakan,
“Tetapi Hukum Taurat
ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dimana dosa bertambah
banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”.
Kata “tambah” atau bertambah-tambah, digunakan Paulus untuk
menunjukkan bahwa nilai plus itu berasal dari kasih karunia, dan bukan dari
hukum Taurat. Paulus menyatakan bahwa
hukum Taurat itu diberikan bukan supaya orang Yahudi itu menjadi lebih rohani,
tapi supaya dosa itu lebih dinyatakan dan dibuka. Apabila dosa itu dinyatakan, maka kasih karunia
Allah itu juga lebih dinyatakan lagi. Karena dosa manusia maka kasih karunia
itu dilimpahkan melalui Yesus Kristus. Artinya kasih karunia dalam Kristus itu
jauh lebih berkuasa dari dosa dan kasih karunia membebaskan manusia dari
dosa-dosanya. Jadi nilai anugerah dalam
Kristus jauh lebih tinggi nilainya dari nilai tambah dalam kehidupan dosa.
Hukum Taurat sendiri tidak memiliki kuasa untuk membebaskan orang berdosa dari
dosanya, tapi menyatakan dosa bagi orang banyak. Tapi bagi orang Yahudi, hukum
Taurat itu digunakan untuk nilai plus bagi dirinya agar menghakimi orang yang
berdosa.
Kalau
kita melihat dalam beberapa abad ini, orang-orang berusaha mengejar nilai plus.
Mulai dari abad pencerahan, orang mengejar nilai plus melalui ilmu pengetahuan,
inilah awalnya jaman moderen, kemudian memasuki abad ke 20, orang mengejar
nilai plus dari membuat senjata, siapa yang lebih kuat ia menang, kemudian
mengakhiri abad ke 20, orang mengejar nilai plus dari ekonomi, dan sekarang
orang mengejar nilai plus dari meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk menjadi
yang terbaik. Namun dalam mengejar nilai plus ini, mereka masih tetap hidup
dalam dosa. Tidaklah heran, dengan kemampuan dan professionalismenya mereka
berani mengerjakan apa saja yang bertentangan dengan kebenaran. Jadi Secara
lahiriah mereka baik, tetapi secara batiniah mengalami kerusakan.
Bagi
orang percaya, nilai plus yang sesungguhnya itu kita peroleh bukan dari hal-hal
jasmani yang hanya bersifat sementara, apalagi nilai plus dari dosa akan
membawa kepada kehancuran, sebab upah dosa itu maut. Menurut Paulus, nilai plus yang kekal itu
kita peroleh dari “kasih Karunia Allah”. Ada tiga nilai plus yang dapat kita
peroleh dari kasih karunia Allah yakni:
Yang Pertama, kita hidup dalam kasih karunia. Artinya kita telah dipersatukan
dalam Kristus, dalam kematianNya dan kebangkitanNya. Akibatnya kita memiliki
kehidupan yang baru. Sesungguhnya tidak ada hidup yang lebih baru dari hidup
yang baru sekarang ini. Ini adalah nilai plus yang paling berharga. Ada banyak nabi dalam Perjanjian Lama ingin
mengetahui hidup dalam nilai plus ini, tapi tidak punya cukup umur untuk itu.
Duniapun menyaksikan bahwa kita adalah orang yang berbeda dari mereka. Orang
percaya memiliki nilai plus karena kematian dan kebangkitan Kristus. Nilai plus
ini membuat kita begitu spesial, sehingga kita dapat melayani Allah dalam dunia
ini untuk membawa berita penebusan Kristus. Malaikat tidak melakukan ini,
karena malaikat tidak pernah mengalami penebusan Kristus. Dalam bahasa Yunani,
Paulus menggunakan kata “kainos”, artinya “kualitas dalam kehidupan yang
baru”, atau tidak pernah terpakai”, disini ia berbicara soal baru dalam
kualitas, bukan dalam penampilan. Inilah kualitas moral dan kualitas imanyang
disebut ‘kecantikan yang didalam batin”. Kualitas ini tidak dapat dimiliki oleh
siapapun yang belum mengenal Yesus. Apabila kita menilik hiudp kita dalam
Kristus, maka kita adalah manusia yang ajaib, yang memiliki kualitas Allah
dalam diri kita. Mengapa ada banyak orang Kristen merasa diri rendah, minder,
sehingga tidak menjadi berkat. Seringkali orang percaya merasa hidupnya lebih
rendah dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Ia hidup mengisolir diri dari
masyarakat.
Kainos ini terjadi karena manusia lama kita telah turut disalib, tubuh dosa
hilang kuasanya. Oleh sebab itu: “dosa
dan kelemahan itu harus berkurang, dan kasih karunia itu bertambah”, dan bukan
sebaliknya. Kalau “dosa bertambah” maka “Kasih Karunia lebih bertambah lagi”,
artinya kalau kita jatuh dlam dosa, maka ada kesempatan yang luas bagi kita
untuk bertobat dan menerima pengampunan Allah.
Kainos ini terjadi karena kita mempunyai tuan yang baru, yaitu
Kristus. Kita hidup dengan Dia dan bagi Dia. Kita memiliki persekutuan yang
indah dengan Dia. Kainos dalam hidup kita harus
menjadi senjata kebenaran. Senjata kebenaran adalah senjata untuk
membela kekudusan Allah dalam hidup kita.
Apabila kita memiliki nilai plus dari “kainos”, apakah
kita mau hidup dalam dosa?, saya yakin
tidak.
Yang Kedua, nilai plus dari kasih karunia memberikan status yang baru bagi
kita yaitu sebagai hamba kebenaran. Ini merupakan tanggunjawab rohani kita
kepada Allah. Kata yang digunakan oleh Paulus adalah “Doulos”, yang berarti
hamba. Dalam budaya Yunani Doulos atau
budak ini tidak mempunyai hak apapun, ia hidup hanya untuk tuannya dan mengabdi
dengan segala pengorbanan. Ia bagaikan harta benda hidup dari tuannya sehingga
tuannya dapat berbuat apasaja yang ia mau. Disini menjadi hamba kebenaran
artinya hidup dengan sepenuhnya dalam ketaatan penuh kepada kebenaran Allah
tanpa ada keinginan untuk mengubah kebenaran tersebut. Kita menjadi hamba
kebenaran oleh karena Kristus telah menjadi hamba Allah dan berkorban di kayu
salib untuk membebaskan kita dari hamba dosa. Dengan demikian
kita harus menjadi orang yang rela dan bersedia untuk memperhambakan
diri kita kepada kebenaran yakni kepada kehendak Allah. Pada suatu hari, ada
seorang budak perempuan yang cantik dibawa oleh tuannya untuk dilelang di pasar
budak di salah satu kota di India. Melihat pemudi yang cantik ini, maka
datanglah anak-anak muda berduyun-duyun untuk membelinya. Kemudian pengusaha
pelelangan ini mulai menawarkan kepada orang banyak yang hadir disitu. Setiap
pemuda menawarkan bayaran yang tinggi untuk pemudi yang cantik ini. Mereka
saling bersaing dalam membanting harga yang tinggi-tinggi. Sehingga di pasar
lelang ini begitu riuh dengan persaingan harga untuk membeli budak yang cantik.
Tiba-tiba muncul seorang tua yang peot dan kumak menawarkan harga yang
begitu tinggi sehingga tidak seorangpun yang dapat menyainginya lagi. Lalu budak yang
cantik harus menjadi budak si bapak tua ini. Namun perempuan ini merasa geli
dan tidak rela mengikutinya. Kemudian bapak tua ini
datang kepada perempuan ini, lalu ia
mengatakan, “anakku, janganlah engkau takut, aku telah membelimu dengan harga
yang tinggi supaya engkau dapat hidup dentgan bebas, engkau tidak usah
mengikuti aku dan menjadi budakku. Lalu bapak
tua ini merobek dokumen hak memiliki budak di tangannya dan membiarkan perempuan ini pergi dengan bebas.
Melihat apa yang dilakukan oleh bapak tua ini, perempuan ini menangis dan
terharu, lalu perempuan ini mengatakan,
pak, biarkanlah aku mengikut bapak dan aku
mau melayani bapak sebagai bapaku dan bukan sebagai tuan, karena bapak
telah membebaskan aku dari perbudakan.
Pengorbanan Kristus di salib dan menebus kita dari
perbuadakan dosa seharusnya membawa kita untuk menjadi hamba-hambaNya yang
mulia. Ia tidak memperbudak kita, tetapi Ia mau supaya kita hidup taat kepada
kebenaran.
Kita harus mengerti bahwa kehidupan kita dalam Kristus merupakan suatu
kasih karunia yang besar yang membuat kita memiliki nilai hidup yang begitu
berharga. Nilai hidup yang berharga atau nilai plus ini bukanlah kita peroleh
dari nilai-nilai materi yang bersifat
sementar. Nilai plus dalam Kristus mengandung nilai kekekalan yang harus
kita kejar. Kita harus meninggalkan dosa-dosa kita dan hidup dalam kebenaran.
Kita harus menjadi memperhambakan diri kita kepada kebenaran dan bukan kepada
dosa.
Dalam
hidup kita di dunia ini, kita harus mengejar nilai plus yang ada dalam batin. Kecantikan yang di
dalam memiliki nilai yang jauh lebih baik dari kecantikan yang di luar. Tapi
kita dapat mengimbangi ini, yakni mengejar nilai plus untuk hal-hal jasmani
dalam karier kita, dan juga mengejar nilai-nilai batin dalam kehidupan iman
kita mengiringi Tuhan. Jadikanlah kehidupan iman kita menjadi senjata-senjata
kebenaran untuk mempertahankan nilai
plus yang telah dianugerahkan kepada kita melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.
Tidak
ada hidup yang lebih indah dari hidup dalam kasih karunia Allah. Hidup ini
mengandung nilai plus yang tidak dapat dibeli dengan harta benda manapun.
Apabila kita mempertahankannya, maka kita akan bahagia. Permuliakanlah Kristus
dengan hidupmu sekarang ini. Pertahankanlah kebenaran Kristus dalam hidupmu,
jadilah seorang hamba yang mengabdi kepada tuannya yang telah berkorban untuk
diri anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar